Silat Karo Tergerus Zaman


Kita mengenal silat tidak hanya sebagai teknik bela diri asli Indonesia, tetapi pula sebagai unsur penting dalam kebudayaan suku-suku, selain tari-tarian dan musik. Bahkan dalam beberapa hal, dua hal itu senyawa dengan silat. Dalam adat Minangkabau misalnya, silat merupakan elemen yang selalu hadir dalam setiap perhelatan adat, seperti dalam acara pinangan. Bahkan bagi mereka itu hal yang sakral. Serupa dengan seni bela diri lainnya, silat Minangkabau sendiri tercipta karena konteks kebiasaan masyarakatnya. Kaum pria Minangkabau memiliki tradisi merantau ke luar lingkaran asalnya. Dalam logika kealamian agar tetap dapat bertahan hidup dalam dunia yang cenderung keras, membela diri dari gangguan dan bahaya lainnya adalah keharusan. Termasuk tentu saja peran pesilat Minangkabau dalam menghalau penjajah di masa lalu. Peran yang satu ini juga ada di setiap daerah di era revolusi silam. Pada saat yang bersamaan logika internal yang hadir adalah kewajiban untuk mewariskannya kepada anak dan cucu. Salah satu cara tentu saja dengan menghadirkan perguruan atau sanggar silat di kampung halaman. Dikombinasikan dengan elemen pendidikan lain misalnya agama, silat menjadi entitas penyokong keabadian tradisi suku.

Di sisi lain bela diri merupakan bagian tidak terpisahkan dari tradisi kemiliteran dan sudah lama diterapkan. Sebab, bela diri diajarkan sebagai pendidikan militer. Jepang misalnya memasukkan Karate sebagai bahan ajar pendidikan militer yang pada gilirannya memungkinkan mendunia, menjadi salah satu cabang olahraga yang bergengsi. Militer Indonesia, selain silat juga memasukkan Tarung Drajat sebagi seni bela diri kontemporer yang memadukan beberapa seni bela diri yang lain.

Pencak silat atau silat sendiri adalah seni bela diri yang berasal dari Asia Tenggara. Seni bela diri ini secara luas dikenal di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura, Filipina selatan, dan Thailand selatan sesuai dengan penyebaran suku bangsa Melayu nusantara. Berkat peranan para pelatih asal Indonesia, saat ini Vietnam juga telah memiliki pesilat-pesilat yang tangguh. Kini silat sudah mendunia.

Dalam pembicaraan biasa bersama Pemimpin Redaksi Sora Sirulo, Ita Apulina Tarigan beberapa waktu yang lalu saya bertanya bagaimana kondisi Silat Karo sekarang. Pasalnya satu hari sebelum pembicaraan itu, saya tidak sengaja melihat Silat Karo di video musik Karo milik ayah saya. Di saat yang sama pikiranku mengembara kembali ke masa 26 tahun silam. Tatkala itu saya menonton sinema elektronik di TVRI tentang Karo yang adegan ceritanya dibumbui Silat Karo. Yang menarik bukan saja gerakannya yang khas, tetapi kemampuan kanuragan atau metafisik yang memungkinkan sang pendekar berubah wujud menjadi binatang. Silat Karo juga bukan sekadar olah raga bela diri, tapi merupakan seni tari yang indah yang ditampilkan dengan iringan gendang lima sendalanen. Di beberapa kampung di Karo justru mengenal silat karo dengan sebutan tari-tarian. Maka, tidak heran ketika ditampilkan dalam beberapa ajang, tidak ada adegan perkelahian layaknya silat, tetapi hanya memeragakan gerakan-gerakan khasnya.

Setelah pertemuan bermedium televisi itu, saya tidak mencari tahu lagi tentang Silat Karo atau dalam bahasa Karo disebut mayan atau ndikkar itu. Sebagai pemuda urban lainnya, saya lebih sibuk dengan artefak kebudayaan komputer daripada mempelajari adat istiadat Karo. Dalam upaya mencari sisi kenikmatan menonton keyboard Karo melalui video yang mirip teknik Campur Sari, hingga hari ini orang Karo sangat jarang menampilkan Silat Karo di berbagai kesempatan, khususnya berpenciri adat. Saya jarang melihat Silat Karo dalam Kerja Tahun. Saya juga tidak mendapati Silat Karo dalam acara pernikahan (pasu-pasu), termasuk guro-guro aron. Padahal di acara yang satu ini di masa silam Silat Karo wajib ditampilkan. Saya pikir ini masalah besar.

Apa jawaban Ita atas masalah itu? Sebagai pemimpin media komunitas untuk pembaca Karo, menurutnya Silat Karo mulai punah karena sangat sedikit orang Karo yang berminat mempelajarinya. Kalaupun ada yang mampu, ia hanya bisa mempraktikkan sekadarnya saja. Maka tidak heran Silat Karo kini mulai punah. Ita juga sependapat dengan saya bahwa Silat Karo tidak lagi dikenal, karena rendahnya kemampuan publikasi tertulis orang Karo. Maka, dapat dimaklumi kalau sahabat saya tidak percaya kalau Karo punya silat.

Dalam aksi kebudayaan Karo kontemporer, sangat sedikit yang sangat serius memeliharanya sebagai gugus kearifan lokal yang maha penting. Orang Karo sekarang lebih gemar ber-keyboard-ria, ramai-ramai menghaturkan keindahan tari dan musik. Tetapi tentu saja saya memuji keadian suara alat-alat musik tradisional Karo yang lebih memiliki ruh, meresap menembus raga pendengar. Jika di masa silam pendekar Silat Karo memiliki citra istimewa berbanding seniman musik, bagi saya hari ini yang mendapat lebih banyak tepukan tangan adalah “pendekar keyboard”. Jelas, zaman kian menggerus Silat Karo pada titik terendahnya.

Guru Silat Karo memang ada di sebuah kampung jauh di Kabupaten Karo. “Ada satu orang yang masih hidup, tetapi sudah tua sekali usianya. Pipinya saja sudah cekung,” ujar Ita sambil mencekungkan pipinya meniru pipi kempot. Tidak jelas apakah sang guru memiliki murid atau menulis kitab. Yang jelas sepengetahuan Ita, Silat Karo tidak memiliki perguruan. Beberapa ada yang berupaya memeliharanya hanya sebagai elemen kecil dari sanggar seni Karo bersama musik dan tari.

Sora Sirulo beberapa waktu silam juga pernah menelusuri jejak-jejak Silat Karo di Pertumbungen yang beritanya saya kutip dari www.sorasirulo.net. Berita ditulis Caranta dengan beberapa gubahan dari saya demi kepentingan penulis artikel ini. Pertumbungen adalah desa terpencil di Kecamatan Munte, Kabupaten Karo. Desa ini berpenduduk sekitar 300 jiwa dengan 100 KK. Jaraknya sekitar 4 km dari Munte. Di sana pernah tinggal seorang pendekar Karo yang cukup terkenal di era 1970-an hingga 1980-an. Namanya Pa Mayan Surbakti. Like father like son, sang putra, Mayan Surbakti juga piawai ermayan mewarisi “kesaktian” seperti ayahnya. Sang pendekar bukan saja ahli ndikkar dan ermayan, juga sangat tangkas memeragakan alat bela diri modern seperti double stick Bruce Lee. Semasa hidupnya, dia mengikuti banyak olah raga bela diri di luar silat Karo untuk menambah kemampuan bela dirinya.

Menurut salah seorang murid Mayan, dulunya banyak pelatih bela diri yang datang kepada Pa Mayan untuk berlatih. Sebelum berlatih, umumnya mereka mencoba kemampuan mereka dengan Pa Mayan, namun mereka dikalahkan oleh Pa Mayan. Mereka salut, angkat tangan dan berguru kepadanya. Sambil bercerita panjang lebar tentang keberadaan silat Karo di Pertumbungen, mantan muridnya ini memperagakan beberapa jurus yang ia pelajari dari Pa Mayan. Ternyata, di samping ada unsur seni hiburannya, Silat Karo memiliki jurus-jurus maut.

Ita Tarigan bilang ada satu lagi seorang pendekar Silat Karo yang telah melanglang buana mengajarkan ilmunya. Yang satu ini memang belum kempot, masih bertenaga muda tetapi mengaku tidak bisa melenting tinggi akibat faktor usia. Dia punya kitab yang diturunkan ayahnya, termasuk sebuah perguruan. Namun, jangan berpikir ada di tanah kelahirannya. Jangan berpikir muridnya kebanyakan adalah orang Karo sendiri. Siapakah sang pendekar? Namanya Yakinsyah Brahmana, seorang Karo yang lama tinggal di negeri kincir angin. Di sana, tepatnya di Sekolah Kristen Oikumene di Groningen, Yakinsyah mengajar mayan kepada lebih dari 200 siswa sekolah dasar itu.

Seperti yang dikutip dalam dokumentasi berita Sora Mido, Yakinsyah berucap, “Setidaknya lebih dari 200 orang telah belajar ndikkar Karo disini, oleh sebab itu suatu saat bisa saja pandikkar-pandikkar akan datang dari Belanda ini dan kita akan belajar dari mereka.” Wow, saya langsung membayangkan kelak ada beberapa billboard di Padang Bulan berisi ajakan belajar Silat Karo. Ada gambar seorang Belanda di sisi kanannya, seorang guru Silat Karo, hasil godokan Yakinsyah. Ukurannya setinggi billboard itu! Belajar Silat Karo dari orang Belanda tentu saja kenyataan yang menyebalkan.

Bertualang menurunkan ilmu

Yakinsyah sendiri banyak belajar gerakan-gerakan mayan dari beberapa guru mayan Karo sejak tahun 1981 hingga tahun 1992, ketika dia masih berprofesi sebagai tourist guide di Berastagi dan Sungai Alas, Aceh Tenggara. Yakinsyah belajar dari banyak guru di berbagai kampung, seperti Seter Sembiring (Lau Baleng), Pa Kuling-Kuling atau Menet Ginting (Lau Cimba), Pa Johan Barus (Pendekar Buntu), Belat Tarigan (Kaban), Tagok Peranginangin (Lau Buluh), dan berbagai informasi dari Ginting Capah (Beganding), dan Tukang Ginting (Berastagi).

Yakinsyah mendapatkan ilmu Silat Karo dari ayahnya. Ketika masih bocah sang ayah memberikan kepadanya kitab silat buatan ayahnya, berharap sang anak mempelajarinya. Menurut Yakinsyah ayahnya benar-benar paham teori bersilat, tetapi kurang dalam praktik. Untuk itulah sang ayah mencarikannya seorang guru. “Ayah menganjurkan saya belajar Silat Karo supaya saya memiliki rasa percaya diri yang besar. Dengan demikian saya bisa mudah bergaul dengan banyak orang,” jelas Yakinsyah. Berkat kemahirannya bersilat itu pula di masa mudanya ia menjadi lebih dekat dengan noni-noni Belanda.

Yakinsyah Brahmana

Berdasarkan pengalamannya dari tokoh-tokoh pendekar Karo tersebut, Yakinsyah juga telah menampilkan mayan di berbagai ajang pertunjukan seni di Eropa, misalnya di Pasar Malam Den Haag, Tong-Tong Fair, Zundert, dan sebagainya. Dengan pengetahuannya tersebut ia diminta mengajarkan mayan sejak tahun 2002 di sekolah. Setiap semester ada sekitar 15 orang peserta. Setidaknya beberapa jurus Silat Karo ia ajarkan kepada para murid di sekolah orang Belanda tersebut, seperti jurus pertahanen, langkah 2, langkah 7, tare-tare bintang, jile-jile sarudung, pertahanen harimau, pertahanen pedi, dan sebagainya. “Sebenarnya ada 48 jurus mayan, setidaknya para siswa sudah dapat buang lepas,” kata Yakinsyah seperti yang dikutip dari Sora Mido.

Di Belanda Yakinsyah mengaku tidak terlalu dekat dengan media yang memungkinkan dia memperluas pengaruh Silat Karo di sana. Dengan segala kerendahan ia mengakui inilah kelemahan pribadinya. “Diwawancarai oleh media lokal belum pernah saya lakukan, karena inilah mungkin kekurangan karakter saya sendiri yang tidak pernah mau menjadi seorang yang dikenal. Yang saya harapkan dengan karakter ini adalah keunikan menjadi seorang pendekar. Dan itu unik,” ujarnya.

Walaupun demikian Yakinsyah benar-benar yakin Silat Karo akan mendapatkan tempat tersendiri di tengah perubahan perubahan zaman. “Saya sangat optimis, karena jurus ndikkar Karo itu adalah jurus hidup selalu disesuaikan dengan situasi kehidupan pada zamannya. Misalnya saja dulu pesilat dilatih menghadapi babi hutan dengan dasar langkah si telu-telu. Sekarang langkah ini mampu digunakan kalau ada serangan musuh saat kita duduk di belakang meja ketika bermain catur misalnya, jurus ini kan masih dapat digunakan sepanjang masa,” tutur Yakinsyah.

Kami pun berguru

Dari pembicaraan bersama Ita itu, kami sepakat mengundang Yakinsyah, sang pendekar hadir di depan kami yang kebetulan sedang berada di Medan. Saya pastilah senang, karena ini kesempatan langka, seperti bertemu fosil dinosaurus.Tentu saja kami tak sekadar berdiskusi, mencari jawaban tetapi hendak belajar langsung beberapa jurus dasar. Kami berguru.

Pertemuan pertama pada Jumat, 29 Juli 2011 lalu jauh dari sebutan ramai. Padahal ajakan kepada teman-teman lain sudah disampaikan. Yang berminat ada 10 orang, 5 orang dewasa dan 5 lagi kaum bocah. Kami tak menyangka sang guru ternyata sudah menuliskan sebelumnya beberapa materi yang hendak diajarkan. Maksudnya supaya lebih sistematis. Tetapi, karena tahu kami buta sama sekali soal Silat Karo, terutama yang paling mendasar: mengikat sarung di pinggang, ia pun menyesuaikan cara penyampaian dengan lebih sederhana. Pertemuan kedua pada 31 Juli 2011 di malam hari “murid” yang datang berkurang, hanya 3 orang di antaranya Ita Tarigan sendiri dan Ananta Perangin-angin, jurnalis waspadaonline.com.

Apa kesan pertama bertemu pendekar Silat Karo? Yah, jujur saja sebenarnya biasa-biasa saja. Tampang pendekar yang satu ini jauh dari kesan sangar seperti jagoan Taekwondo Advent Bangun yang juga aktor film laga Indonesia itu. Pendekar Yakinsyah yang berkacamata ini rajin tersenyum dan sulit berhenti bercerita, kecuali saya “serang” dengan pertanyaan. Barangkali ini karena sudah bawaan orok dan profesinya dulu sebagai pemandu wisata. Ia juga gemar merokok dan tak lupa menenggak Coca-Cola.

Well, seperti bela diri lainnya tentu kami belajar soal kuda-kuda dulu. Kemudian dilanjutkan gerakan dasar tangan memutar mirip Tari Piring orang Minangkabau. Silat Karo mengenalnya sebagai rampung belo. Satu variasi dari gerakan itu disebut tare-tare bintang. Dalam praktiknya dengan tangan kosong satu tangan digerakkan dengan telapak tangan terbuka, jari-jari merapat. Kedua-duanya digunakan untuk menyerang lawan. Dengan gerakan serupa, menggunakan senjata hasilnya dapat dipastikan melumpuhkan lawan. Pasalnya, Silat Karo menurut Yakinsyah lebih banyak didominasi mengelak dan menyerang daripada menangkis serangan. Atau dengan kata lain, setiap kali serangan datang tidak langsung dibalas menangkis, tetapi langsung mengelak dan membalas serangan yang berefek melumpuhkan. Inilah ciri khas Silat Karo, tegas Yakinsyah.

Dalam logika saya dengan teknik seperti itu berarti menghemat gerakan karena minus menangkis, sembari mengalihkannya kepada serangan yang telak. Nah, andaikata saya menendang Yakinsyah ke arah perut dengan kaki kanan, maka ia tidak mendorong balik kaki saya ke bawah sebagai gerakan tangkisan. Yang perlu ia lakukan adalah langsung menumbukkan pangkal telapak tangan atau tinju ke arah tulang kering dengan kekuatan penuh. Efeknya, untuk sementara mungkin saya tidak bisa menginjak pedal rem sepeda motor saya.

Dalam beberapa hal, seperti bela diri lainnya, Silat Karo mampu menghimpun energi serangan lawan yang dielakkan sebelumnya dan dijadikan tambahan energi kekuatan balas. “Kalau dihitung-hitung bisa mencapai 150 persen energi,” kata Yakinsyah.

Menurut Yakinsyah Silat Karo tradisi mirip dengan silat tradisi lainnya. Tetapi, ada sedikit perbedaan dalam hal bertahan atau pertahanan. Kata “bertahan” dapat kita bayangkan menangkis setiap serangan musuh, sehingga kesannya tidak pernah menyerang. Arti itu yang jauh dari praktik. “Tepatnya ketika ada serangan pertama, pendekar selalu melangkah dan mengelak serangan. Begitu luput dari serangan pertama maka dia sudah dalam posisi menyerang. Sementara musuh dalam posisi menarik serangan dan belum sempat dalam posisi sempurna,” kata Yakinsyah.

Berladang jagung untuk Silat

Sebagai seorang pendekar yang nyaris sendiri di dunia persilatan Karo, Yakinsyah tentu sangat prihatin dengan Silat Karo yang tidak dipelihara oleh tanah kelahirannya. Sebagai warisan leluhur yang pernah berjaya, Silat Karo justru dipelajari oleh bangsa lain dengan sungguh-sungguh. Walaupun Yakinsyah bangga hanya bisa mengajarkan itu kepada orang bukan Karo dan bisa mendapatkan uang dari itu, bagi saya ada tersirat penyesalan dalam diri Yakinsyah. Tetapi, di atas semua itu mengajarkan Silat Karo kepada orang bukan Karo mungkin adalah jurus terbaik menghadirkannya ke permukaan publik daripada tidak sama sekali. Apalagi di tengah kondisi di Tanah Karo sendiri yang memang tidak memungkinkan.

Nah, seperti cerita-cerita dunia persilatan, seorang guru sulit bertahan lama di sebuah tempat meskipun sudah mendirikan perguruan dan mendapatkan banyak sahabat. Demikian pula Yakinsyah yang mengaku mulai jenuh di tinggal Belanda. Ada kerinduan yang amat sangat tergambar di wajah sang pendekar untuk kembali ke tanah kelahirannya. “Saya berniat berladang jagung sembari mendirikan perguruan Silat Karo di kampung. Sebagian hasil menjual jagung bisa dimanfaatkan mendirikan semacam padepokan,” kata Yakinsyah.

Bagi Yakinsyah menghidupkan kembali Silat Karo di tanah kelahirannya adalah sebuuah aksi. “Haris dimulai dengan dasar ekonomi yang memadai, sebab pengembangan ndikkar merupakan aksi pengembalian bagi pemiliknya, yaitu orang Karo sendiri. Jadi saya usahakan selalu memberikan latihan dengan cara gratis,” tambahnya.

Konteks Masa Lalu

Membaca nasib Silat Karo tentu saja tidak enak tanpa melihat sudut pandang antropologi, termasuk konteks sejarahnya. Dalam hal itu seorang yang tepat adalah Juara R. Ginting, Antropolog Universitas Sumatera Utara yang juga lama meneliti di Universitas Leiden, Belanda. Menurut pria yang juga Pemimpin Umum Sora Sirulo ini dalam catatan sejarah, Silat Karo pernah menjadi alat perjuangan melawan penjajah. Sebagaimana dituturkan oleh Anthony Reid dalam bukunya Revolusi Berdarah di Sumatera Timur, para pemuda pergerakan Karo di daerah sekitar Pancurbatu (Deliserdang) mendirikan beberapa perguruan silat melalui sebuah upacara yang disebut mantek gelanggang (mendirikan gelanggang). Saat upacara, sang guru silat mendemonstrasikan kemampuan silatnya kepada masyarakat dan lalu mengangkat orang-orang yang berminat menjadi murid-muridnya. Pengangkatan murid-murid dilakukan dengan bersumpah tidak mempermalukan perguruan lalu meminum darah segar ayam jantan merah langsung dari lehernya yang baru disembelih.

Kelompok-kelompok pergerakan ini sasaran utamanya adalah merebut tanah-tanah yang disewakan Sultan Deli ke perusahaan-perusahaan perkebunan asing di bawah naungan asosiasi perkebunan Deli Maschapij untuk menjadi lahan pertanian rakyat. Mereka menyebut diri Gerakan Aron yang dikoordinir organisasi-organisasi berhaluan kiri seperti halnya Barisan Tani Indonesia (BTI) yang merupakan onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI).

Menurut Juara gerakan itu berlanjut hingga Jepang mengambil alih kekuasaan. Bentrokan fisik yang memakan banyak korban sering terjadi antara tentara Jepang yang mengawal perkebunan dengan aron (pemuda) yang berusaha merebut tanah-tanah perkebunan. Masih dari buku yang sama dan para orangtua Karo masih banyak yang mengingatnya, Revolusi sosial di Sumatera Timur (1945-1950) yang digerakkan oleh organisasi-organiasi pemuda berhaluan kiri, banyak digerakkan jago-jago Silat Karo. Salah satu di antaranya yang terkenal adalah Pantuk Ginting yang di kalangan bangsawan Deli dan Serdang sebagai pemimpin preman.

Pecahnya peristiwa G30S 1965 membawa malapetaka pada Silat Karo. Banyaknya pesilat-pesilat Karo yang tumbuh bersama organisasi/partai berhaluan kiri menimbulkan citra yang buruk antara belajar silat dengan ideologi kiri. Apalagi ruang gerak guru-guru silat yang umumnya berhaluan kiri dipersempit oleh pemerintah Orde Baru atau mereka dipenjarakan.

“Namun demikian, hingga tahun 1970-an, masih terdapat beberapa perguruan silat di beberapa kampung Karo. Menurut beberapa pengakuan, para remaja Karo di saat itu tertarik belajar silat untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan kota untuk melanjutkan studi. Kebanyakan mereka harus berangkat ke Kabanjahe atau Berastagi dan Tigabinanga untuk meneruskan SMA. Ada juga perguruan silat seperti di Berastepu, Kecamatan Simpangempat, Kabupaten Karo yang mempersiapkan murid-muridnya untuk menguasai terminal Kabanjahe dan nantinya Pasar Bawah Binjai,” ujar Juara.

Meningkatnya pemikiran bahwa silat semata-mata hanya untuk berkelahi, dan orang-orang yang suka berkelahi biasanya malas bersekolah, menurun pula minat orang-orang Karo untuk mengembangkan pelatihan silat. Tapi, sejak tahun 1990-an, beberapa video Karo memperlihatkan adanya penampilan ndikkar di acara-acara kerja tahun yang ternyata cukup diminati sebagai sebuah hiburan seni.

Di tahun 2000-an ini, beberapa kelompok seni di Kabanjahe menampilkan silat sebagai sebuah pertunjukan. Mereka memaksudkan itu seperti pertunjukan Silat Karo tradisional dengan menampilkan para pesilat di atas diiringi musik tradisional Karo. Akan tetapi, bagi Juara kebanyakan gerakan silat mereka menggambarkan bahwa mereka bukan belajar Silat Karo. “Mereka diajar oleh pesilat-pesilat yang memang orang Karo, tapi mempelajari silat dari salah satu perguruan silat di bawah naungan IPSI yang cabang-cabangnya ada di seluruh Indonesian,” kata Juara.

Tambah Juara lagi, mereka bukannya menampilkan filosofi pertunjukan silat tradisional Karo yang mengutamakan hubungan dengan kosmos dan alam sekitar seperti Sembah Empat Desa (Timur-Barat-Utara-Selatan). Itulah yang dipersembahkan kepada penonton, sebuah pelukisan kosmos dan alam sekitar menurut versi individual pesilat sebelum diadakan pertarungan. Pertarungan silat Karo di atas pentas mengharamkan terjadinya kontak fisik. Hanya para pesilat yang bersangkutan dan penonton yang pesilat kawakan yang mengetahui siapa sebenarnya pemenang pertarungan itu. Dengan kata lain, pertarungan silat Karo di atas panggung mengutamakan seni meskipun, namanya pun manusia, pasti ada kompetisi terselubung di antara pesilat.

Silat Karo dalam keseluruhannya adalah kekayaan budaya Karo yang perlu dilestarikan dan ditumbuhkembangkan bukan dengan cara memasukkan silat dari luar dan dicocok-cocokkan sehingga kelihatan seperti silat Karo. Akan tetapi, sebuah usaha pencarian menyeluruh atas keasliannya lalu disuburkan dengan arena modern saat ini.

Well, menunggu niat itu terkabul Yakinsyah, sang pendekar kini berkeliling mewacanakan gerakan mengenal Silat Karo ke tingkat lebih tinggi. Setidaknya upaya publikasi tertulis yang dilakukan oleh orang-orang terdekatnya di berbagai media bisa menjadi instrumen penting bagi laju wacana tersebut di hadapan publik. Di masa depan adalah harapan bersama komunitas Karo akan terbit sebuah kitab tentang Silat Karo sebagai jurus yang adiwacana. Ciaaattt…!!! (http://vinsensius.info)