soekarno landek

Karo bukan Keturunan si Raja Batak

Batak sering disebut sebagai salah satu suku bangsa di Indonesia. Nama batak itu sendiri sering dijadikan rujukan untuk mengidentisifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal dari Tapanuli dan Sumatera Utara.

Adapun suku bangsa yang dikategorikan sebagai Batak adalah, Karo, Pakpak, Toba, Simalungun, Mandailing, dan Angkola. Namun bila ditinjau dari segi sejarah, maka anggapan Karo adalah bagian dari Batak merupakan presepsi yang sangat keliru. Kutipan tulisan dari koran Suara Pembaruan dengan judul “Siapakah Orang Batak Itu?” yang terbit pada 29 Januari 2005, menyebutkan bahwa benar, bangsa Batak adalah keturunan langsung dari si Raja Batak.

Si Raja Batak pada tulisan itu diperkirakan hidup di sekitar tahun 1200 (awal abad ke-13). Batu bertulis (prasasti) di Portibi bertahun 1208 yang dibaca Prof Nilakantisasri (Guru Besar Purbakala dari Madras, India) menjelaskan bahwa pada tahun 1024 kerajaan Cola dari India menyerang Sriwijaya yang menyebabkan bermukimnya 1.500 orang Tamil di Barus.

Pada tahun 1275, Mojopahit menyerang Sriwijaya, hingga menguasai daerah Pane, Haru, Padang Lawas. Sekitar tahun 1400, kerajaan Nakur berkuasa di sebelah timur Danau Toba, dan sebagian Aceh. Dengan memperhatikan tahun dan kejadian di atas, diperkirakan si Raja Batak adalah seorang aktivis kerajaan dari Timur Danau Toba (Simalungun sekarang), dari selatan Danau Toba (Portibi), atau dari barat Danau Toba (Barus), yang mengungsi ke pedalaman akibat terjadi konflik dengan orang-orang Tamil di Barus. Akibat serangan Mojopahit ke Sriwijaya, si Raja Batak yang ketika itu pejabat Sriwijaya, ditempatkan di Portibi, Padang Lawas, dan sebelah timur Danau Toba (Simalungun)

Sebutan Raja kepada si Raja Batak diberikan oleh keturunannya karena penghormatan, bukan karena rakyat menghamba kepadanya. Demikian halnya keturunan si Raja Batak, seperti Si Raja Lontung, Si Raja Borbor, Si Raja Oloan dan sebagainya, meskipun tidak memiliki wilayah kerajaan dan rakyat yang diperintah.

Selanjutnya menurut buku Leluhur marga-marga Batak, dalam silsilah dan legenda, yang ditulis Drs Richard Sinaga, Tarombo Borbor Marsada anak si Raja Batak ada tiga orang, yaitu Guru Teteabulan, Raja Isombaon, dan Toga Laut. Dari ketiga orang inilah dipercaya terbentuknya marga-marga Batak.

Di antara masyarakat Batak, ada yang mungkin setuju bahwa asal-usul orang Batak dari negeri yang berbeda, tentu masih sangat masuk akal. Siapa yang bisa menyangkal bahwa Si Raja Batak yang pada suatu ketika antara tahun 950-1250 Masehi muncul di Pusuk Buhit, adalah asli leluhur Orang Batak?

Dari sejarah Batak yang tertulis di Koran Suara Pembaruan ini, maka kita dapat membuat perbandingan antara kehidupan Si Raja Batak dengan sebuah kerjaan besar bernama Aru yang disebut-sebut sebagai kerjaan yang pernah berdiri di wilayah pantai timur Sumatera Utara saat ini. Dari catatan kronik Cina pada masa Dinasti Yuan, disebutkan bahwa pada tahun 1282 Kublai Khan menuntut tunduknya penguasa Haru pada Cina. Tuntutan itu disebutkan ditanggapi dengan pengiriman upeti oleh saudara penguasa Haru pada 1295. Maka dari catatan ini dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Aru sendiri pasti sudah ada sebelum tahun 1282? Antara Karo dan Kerjaan Aru selalu terkait, bahkan terdapat indikasi bahwa penduduk asli Haru berasal dari suku Karo, seperti nama-nama pembesar Haru dalam Sulalatus Salatin yang mengandung nama dan marga Karo.

Membandingkan antara masa kehidupan si Raja Batak dengan masa berdirinya Kerjaan Aru yang secara bersama-sama hidup diantara abad ke-12 sampai abad ke-13 dengan dua kerjaan yang berbeda, maka sudah tentu, antara nenek moyang Batak dengan nenek moyang Karo itu berbeda. Disatu sisi nenek moyang Batak berasal dari Si Raja Batak. Namun disisi lain nenek moyang Karo berasal dari Kerjaan Aru yang rajanya disebut juga dengan Pa Lagan (nama orang karo). sumber

64 Replies to “Karo bukan Keturunan si Raja Batak”

  1. arikokena

    Adi kalak batak (teba) e, megenggeng kin atena masukken kita kalak Karo ku ia, perbahan ngenana kel atena nandangi kita ras perbahan merhatna kel ia seri ras kita tapi la ia ngasup. Bujur..!

    • horas

      Kam sila ngasup ngimbangi batak pal labo kalak batak silangasup.adi kam kalak karo coba jelasken silsilah kena secara detail.ula hanya nyontek bas situs mbah gogle maka .adi batak toba pada umumna mulai dari awal sampai akhir silsilahna lit sampai keturunenna

  2. Robert Ferdinand

    Pernyataan Karo bukan keturunan si Raja Batak tidak perlu diperdebatkan. Pendapat tersebut adalah merupakan suatu keyakinan bagi kita yang hidup sekarang ini. Sejarah yang dipaparkan diatas juga harus membutuhkan keyakinan seseorang atas kebenarannya. Tidak perlu dipersoalkan itu semua. Namun kenyataan saat ini dapat dipertimbangkan sebagai referensi pemikiran adalah apakah kedua komunitas tersebut mempunyai kemiripan adat budaya. Bila tidak ada kesamaan berarti tidak merupakan satu keturunan demikian sebaliknya. Yang jelas tidak ada gunanya memperdebatkannya. Dan yang perlu dijaga dan dipertahankan adalah Hidup Orang bertetangga harus saling akur, saling menolong, bahu-membahu untuk melawan ketertinggalan, kebodohan dan kemiskinan.

    • argi71

      ok lah friend.tapi janganlah sisingamangaraja dipindahkan ke tahura friend.kayak g ada aja lagi tempatnya di tanah batak.bedosa kita friend.

    • Elkana

      Bos….adat dan budaya Karo dan Toba jauh berbeda. Kalau pun ada sedikit kemiripan maka hal itu tdk dapat dipungkiri. Ada bbrp aspek dari sedikit kemiripan itu, diakibatkan proses asimilasi (kawin campur), kedekatan geografis, dsb. Bukan berarti SAMA bos!!!

  3. batak Admin

    Batak adalah Kerajaan diantara Harus dan Pase (Tomi Pires 1518),
    Raja Batak tahun 1539 adalah Angisori Timoraia (Pinto 1539 : Angisery Timoraia).
    Karo Bukan Batak artinya tidak perlu serang-sejarah Batak.
    Batak itu sudah sangat Tua (term Batak masih muda) kalau kita baca baca maka barus adalah kota yang sudah berdiri ribuan tahun lalu, pelabuhan untuk Kapor Barus, Kemenyan dan Emas terbaik didunia.
    Pohon Barus ada di Pakpak/Dairi, kemenyan ada di Toba sekitarnya dan Emas ada di Batang Toru. Jadi Batak Sudah sangat Tua.
    dan Menurut Prof. Uli Kozok dalam sebuah diskusi semua rumpun batak dan Minang berakar dari Sumber yang Sama.
    Dan ada sebuah kerajaan yang berdiri di Antara Sumut dan Riau saat ini yang di serang oleh Colamandala, yaitu Kerajaan Pannai yang kita lupakan karena isue batak lebih enak di bahas dan kita terikut mengagungkan majapahit dan Sriwijaya.
    sila kunjungi blog saya http://batak.web.id
    Bujur ras mejuah-juah.

    • David Ginting

      Saya salah satu masyarakat karo yang percaya “karo bukan batak”.
      Alasan simple:
      Dikaro maupun di suku di sumatera memiliki marga masing². Dan semua berbeda. Dan marga adalah anugrah dari ayah. Dan setiap anak akan dengan bangga disematkan marga di belakangnya. Jadi dimana persamaan marga karo dan batak?
      Kalau karo = batak
      Bukan kah ketika mereka ke karo akan memakai marga mereka?
      Dan karo tetap dengan silima merga-nya.
      Asal silima marga tidak ada dari toba/dairi/atau lainnya. “Tapi” asal sub-marga karo. Ya benar banyak berasal dari tanah batak / dairi.
      Cont. Saya Ginting Tumangger.
      Saya meyakini nenek moyangsaya dari dairi/pak pak (tumanggor-red).
      Tapi tidak dengan Ginting nya.
      Lalu bagai mana/sub marga ini bisa berada dalam marga Ginting?
      Hal itu karena di dalam adat suku karo terdapat “perkade-kaden 12+¹).
      Knp 1 nya kcil? Knp bukan 13?
      Hal ini dikarenakan perkade kaden 12 dlm suku karo pemanggilan orat tutur (mama,mami,bibi, bengkila, nande, bapa, bre², permen,kela… dst) dan angka (¹) menandakan karo terbuka untuk pendatang/bagi siapa saja yang menghormati/dihormati akan disematkan marga (di”karokan”). Sehingga masuk kedalam slah satu susunan sub marga tsb.

      Intinya, merga silima itu sudah ada jauh sejak sebelum masuknya sub marga itu. Dan bila karo = batak pasti akan masuk kedalam marga² karo/batak (dengan kata lain, tidak akan ada Merga silima). Karena setiap yang org tua menyematkan marga pada ank nya.

      Sebagai refrensi…
      https://id.m.wikipedia.org/wiki/Suku_Karo.

      Terlepas dari itu, kita semua bersaudara. Dan sangat disayangkan nenek moyang kita pada jamannya tidak ada yg gmar mnulis, sehingga sejarah kian memudar.
      Salam NKRI.

  4. Yudi Sitepu

    Banyak kesimpang siuran mengenai asal muasal suku Karo, apakah berasal dari keturunan Raja Batak atau Kerajaan Haru?

    Kalo membaca dari berbagai sumber, dan juga hasil penuturan dalam keluarga kami sendiri, saya ambil kesimpulan bahwa:

    1. Memang benar Kerajaan Haru merupakan salah satu asal suku Karo, terutama sekali marga Karo Sekali, merupakan keturunan langsung dari Kerajaan Haru.
    2. Untuk beberapa marga lainnya, seperti Ginting dipercaya berasal dari Asia Selatan, Sembiring merupakan keturunan dari India/Asia Selatan.
    3. Marga Bangun, terutama yg berasal dari Bangun Mulia, yang menyebar ke beberapa tempat terutama kuta Batukarang (Raja Ulung Bangun), adalah merupakan keturunan Sinaga dari Simalungun (karena saya bebere Bangun Batukarang jabu sintengah. Ada 3 jabu keturunan Raja Ulung Bangun: Jabu Sintua, Sintengah dan Singuda). Demikianlah penuturan yang pernah disampaikan pada saya mengenai keturunan Raja Ulung Bangun.
    4. Sedangkan Sitepu katanya berasal dari marga Sihotang, dan saya mempercayai hal ini.

    Kesimpulan:
    Buat saya ga masalah apakah suku Karo itu Batak atau bukan, karena toh marga2 di Karo berasal dari banyak suku bangsa. Peace \/

    • Karo

      Adina kap akapndu la masalah Karo e masuk Batak ntah lang e lanai terpegedang :D

      sebab kataken pe kari buktina banci saja nindu “Labo Masalah Ena”. hehehee.

      4. Sedangkan Sitepu katanya berasal dari marga Sihotang, dan saya mempercayai hal ini.

      engkai makana tek kam ena ? :D

      Mbue si banci i perdebatken kerna Karo enda labo Batak :) ras istilah enda labo lit bas kita nai-nai nari, (contoh si menukahna) cubaken dagena kam pak arah sekitaren Danau Toba ah, ngerana kam ras tua-tua e, sungkunndu ia uga pe ia la kalak Batak nina, tapi kalak Toba ntah Simalungun. Si nggo tading i kota besar ras si nguda denga ngenda ngaku-ngaku ia kalak Batak.

      Asa gundari asal muasal kalak Batak enda lenga bo i eteh, adina nina legenda kalak enda nusur arah langit nari :D

  5. sbr

    Kalak batak ja pa pe pang ia ngklaim sumut khususna medan asalna kalak e, la mehuli lagu langkah kalak e. Tp ia pang ras kalak si lalit hubungena ras kalak asli medan. Tp adi nggo jumpa ras kalak gua pa pe mbiar ia, mis tereteh nokoh2 kalak e. Jawabenna singkat saja banna, itu perasaan kalian saja nina. Em ia teba. Lo lit kalak batak mehuli jelmana. Jumpa kita ras kita mis babana jangna, lae nina nggo nokoh, pal ningen kari mis lawes ia perban la si ikut2 cara kalak e nunggangi kalak.

    • Bang Bro

      Terlalu sempit pemikiran ente, ngakak ane baca komentar ente.

      Kawan ane byk suku karo, sampek skrg kami asik2 aja.

      Horas

    • Alena

      Gw setuju bang bro ame lu.. gw berasal dr kutacane. Orang gayo.. gw belajar byk tentang mengapa sebagian besar org karo muslim..dan jwb an nya karo bkn batak..

  6. sbr

    Kalak batak ja pa pe pang ia ngklaim sumut khususna medan asalna kalak e, la mehuli lagu langkah kalak e. Tp ia pang ras kalak si lalit hubungena ras kalak asli medan. Tp adi nggo jumpa ras kalak karo gua pa pe mbiar ia, mis tereteh nokoh2 kalak e. Jawabenna singkat saja banna, itu perasaan kalian saja nina. Em ia teba. Lo lit kalak batak mehuli jelmana. Jumpa kita ras kita mis babana jangna, lae nina nggo nokoh, pal ningen kari mis lawes ia perban la si ikut2 cara kalak e nunggangi kalak.

  7. rambut api

    Klo dilihat dr hasil penelitian DNA kita adalah 1 ras. Terciptanya bahasa daerah dan budaya setiap suku adalah bentuk suatu visi misi perjuangan atau pemberontakan dn cara belanda utk memecah belah bangsa. 3,5 abad kita terjajah. Semua secara ooTomatis menjadi sebuah budaya, apapun itu.

  8. Delly Madjid Ginting

    enggo man kerina.. hahaha.. piss.. udahlah gak usah ribut…
    Untuk saudaraku yg dari batak, biarkanlah kami orang karo yang tidak mau di bilang karo itu sama dengan batak, kalau pun ada orang karo yang mau di bilang karo sama dengan batak ya silakan aja.
    Yang penting tetap satu indonesia

    Mejuah juah kerina

  9. Sikalapa

    Tapi aksara Batak serupa, hanya ada perbedaan sedikit saja. Induknya berarti sama, kalau dari india itu sudah beda aksaranya, kalau dari arupun aksaranya melayu.

  10. Ucok

    Kalak teba ei.katakena kita batak.lerbahanen tehna taneh karo ei alam na mejile.gelah lit kalak ku tanehkaro.katakena ei tanah batak ka

  11. birink 3binanga

    Memang bukan keturunan langsung sie raja batak, arti batak itu sendiri adalah daratan (tano batak :tanah daratan)sama seperti (tanah karo )..Sie raja batak itu sendiri adalah : salah satu org2 dr sebagian 10 bangsa israel yg hilang (serch.asal nenek moyang org batak) yg mendarat di tepian yg datar tanah/daratan.sehingga kita kenal (tapian nauli ; daratan yg baik) tapanuli sekarang.Radu mereka ras nini bulang kalak karo sie. Lima merga bena_bena. Sebelum sie lima merga bena2 menyebar ke wilayah takasima sekarang.itulah sdikit pemahaman yg bisa aku share. Jadi knapa kita ga suka/ marah disebut bagian dari org batak/daratan?.sedangkan mrk(tapanuli) tetap pegang sejarah pertalian bathin nini bulang??

  12. Natanael Meliala

    Nggo mena “Nakwe”…!!!!!!
    Karo adalah Karo.. dan karo adalah Indonesia,
    miris…!!! masih banyak yang teriak2 bahwa, karo itu bukan “A”, Karo bukan “B”, untuk apa?? Mau cari pengakuan?? Agar diakui?? Masih mencari jati diri??? Kasian sekali, jangan atas namakan KARO kalau hipotesandu juga masih copy paste, karna Karo bukan kalian yang masih & sampai sekarang selalu seolah bertanya2 & ragu atas identitas kalian sendiri, yakini saja bahwa karo adalah karo, tidak perlu teriak & posting dimana2, buat group dimedsos dengan nama akun “Karo bukan batak”, Sekali lagi!!!!! Untuk apa???? Minta pengakuan????? Pengakuan dari siapa???? Mencari jati diri?????? Hari gini??????? Memalukan, pakah2 lbe kena yah kdkd…
    #AKUKALAKKARO,KARO ADALAH KARO , JADILAH KALAK KARO YG PUNYA JATI DIRI, KARENA KARO ADALAH INDONESIA

      • Obed Jeck Gredo Tarigan

        Pas kap bagi katandu e admin . Bila kita dalami lagi sejarah , penggunaan kata batak itu adalah politik penjajah untuk memisahkan orang pedalaman dengan orang pesisir (melayu) , setelah penjajah men doktrin orang pedalaman adalah batak , penjajah juga mendoktrin bahwa yang tergabung dalam batak itu orangnya keji , kasar , tidak beradab dan doktrin – doktrin lain agar suku yang dikelompokkan ke melayu tidak mau bekerja sama dengan yang dikelompokkan ke batak dalam memberi perlawanan kepada penjajah .

        • Tigor Naibaho

          Setuju dgn pendapat ini karena pendapat ini yg paling tengah dlm arti begini, org2 eropa khususnya belanda yg menjajah kita, sebelum/sesudah masuk pasti mereka akan mengirim ilmuwan utk melakukan penelitian2 dan hasil2 penelitian ini akan mereka jadikan data utk menguasai / lebih menguasai suatu tempat dan data2 yg mereka kuasai, mereka gunakan juga utk politik adu domba nantinya, yg pd wkt itu sgt berhasil, masak cara2 seperti itu mau kita angkat lg sampai2 ada topik spt ini , kapan kita mau majunya, biarlah penelitian itu ilmiah adanya, kita jadikan sbg refrensi sejarah, malu dgn suku lain spt jawa dan sunda, liat sejarah mereka ttg perselisihan mreka mengenai eksistensi mreka di pulau jawa hampir2 mirip kok dgn permasalahan ini, lebih keatas lg kita lihat hub inggris-australia apa masih ada org inggris yg mengatakan kpd aust, kamu itu keturunan bajak laut, perompak dll bgitu sebaliknya aust : eh kamu inggris kamu dulu memenjarakan moyang kami di pulau ini dan kami tdk mau bergabung dgn kalian, kalau masih ada saya rasa keadaan mreka masih sama spt kita yg masih ribut dgn masalah identitas ???????
          Sdr2 ku, Maaf kalau ada kata2 yg menyinggung, saya cuma sedih lihat forum ini dan satu hal yg harus kalian ingat, suku2 diluar kita sampai skrg ini masih menganggap kita adalah org2 yg kompak dimanapun kita berada dan saya bangga menjadi bagian itu .

    • Ringo

      Ya ko susah bangat. Mau Karo mau batak siapa yang pusing? Ada yang usil? Ko repot? Seolah ada orang yang yg masih memerlukan jati diri / pengakuan. Mo Batak mau Karo who give a damn shit. Anda perlu pengakuan bahwa anda ini dari Karo? So be it, who gives a damn shit. Anda mau karo mau melayu ga ada yang keberatan. Mari kita jalin persaudaraan sebagai orang Indonesia tanpa melihat suku. Kita semua suku Dan bangsa Indonesia. Menjuahjuah.

  13. Yanti Sitepu

    Mejuah-juah, apakah baci kirimkenndu email atau nomor telepon penulis atau bagian redaksi karo.or.id enda? Berdiskusi ateku kerna laporan penelitian si sangana kubahan. Bujur ibas penampatndu

    • Karo

      tergantung orang yang berdiskusi, hanya mau cari ribut tanpa fakta, atau cuma cari sensasi dengan memaksakan kehendak tanpa ada bukti apa pun :)

  14. jul fikar

    ok yakini saja yg kamu percaya . toh msyarakat yg menggangap diri sebagai batak tdk rugi hanya berkurang saudara saja. mohon maaf setau saya tidak ada yg bilang orng karo itu org batak coba di baca lg silsilah raja batak apakah ada yg menyebutkan secara spesifik kata KARO sebagai keturunanya . jelas sekali anda sudah salah ketika menyamakan kerajaan aru dengan raja batak raja batak adalah nama seorang individu dan kerajaan aru adalah sebuah kerajaan yg sampai sekarang belum jelas letak pasti nya dimana

    • Karo

      Siapa si raja batak? siapa sekarang keturunannya? Berapa usia orang batak? siapa yang tertua? dengan menggunakan nomer sudah keliatan kan, mari coba kita berhitung. km sendiri urutan keberapa?

      kerajaan aru ngga jelas letaknya ? :) hehehee

      • nomi haloho

        Kamu yakin kalau suku karolah suku yg paling tua dari pada suku batak. Tidak ada yg tau itu semua. Jadi jgan menerka2. Penelitian belum tentu benar. Kalau kamu hanya tau dari copas2 di internet sebaiknya jangan sombong untuk berbicara. Karna itu semua hanyalah terkaan yg tidak 100% pasti. Tidak ada satu orang pun yg tau apa yg terjadi ribuan tahun lalu tentang sejarah suku2. Jadi kamu jangan sombong. Toh kamu mengklaim suku karo yg tertua dari suku batak tapi kenapa suku bataklah manusianya yg terbanyak di indonesia di bandingkan suku karo. Banyaknya manusia suku karo belum sebanding dengan banyaknya orang2 suku batak.

  15. jul fikar

    eleh malah banyak tanya lg saya salah satu keturunan naipospos. tdk perlu di pertanyakan lg saya jga percaya karo bkn batak tp klo ada beberapa marga di karo keturunan raja batak sya msih yakin .

  16. dion

    Sebenarnya yg kalian perdebat kan itu apa..
    Batak itu cuma simbol untuk suku..
    Batak itu sama dengan suku..
    Batak karo
    Batak toba
    Batak pakpak
    Batak simalungun
    Batak mandailing..
    Sama juga dengan
    Suku karo
    Suku toba
    Suku pakpak
    Suku simalungun
    Suku mandailing

  17. dion

    Itu makanya ada di bilang si 5 suku..
    Itu lah suku2 kita tadi..
    Batak itu dulu kalian artikan
    Apa sebenarnya arti batak..
    Asal embus.com

  18. feriyanti sitanggang

    Saya batak toba boru sitanggang dan suami saya batak karo marga tarigan. Klu menurut saya karo itu masuk ke suku batak dan suami beserta keluarga besar suami juga mengatakan demikian. Adat istiadat batak n karo juga banyak persamaannya. Klu karo bukan suku batak. Ada yg bisa menjelaskan arti gereja GBKP ( Gereja Batak Karo Protestan). Siapa yg pertama sekali punya ide sampai nama gereja karo itu dibuat GBKP. Klu bukan suku batak kenapa gak dari jaman dulu aja ditegaskan karo bukan suku batak. Saya bangga menjadi orang batak. Dan saya bangga masuk menjadi batak karo.
    sebenarnya kita ini satu, kenapa harus diperdebatkan n dibahas.
    apa kita gak sadar dengan adanya perbedaan yg kita buat itu menjadi awal permusuhan? Kita ini saudara n kita satu dimata Tuhan.
    Maaaff klu ada kata” yang salah.
    salam kasih buat kita semua
    Tuhan Yesus Memberksti
    Horasss
    Mejuah juah kita kerina
    syaloomm

    • sembiring

      jangan jadikan GBKP itu sebagai acuan dari karo itu tetap batak. penamaan GBKP dibuat oleh orang belanda karna mreka ingin menyatukan orang karo dengan batak sehingga penginjilannya lebih luas walaupun sekarang 99,9% yang ada di GBKP adalah orang kari dan alkitabnya berbahasa karo. jadi tolong pikir2 kalau ingin menjadikan GBKP sebagai acuan untuk mengatakan bahwa karo itu batak.
      karo bukan batak.
      mejuah juah manbanta krina.

  19. Sumanto

    ANEH TAPI YATA.
    Batak toba sifatya jugul.
    Kenapa batak toba selalu protes masalah sejarah suku orang lain?
    Kenapa batak toba itu selalu mengklaim suku orang lain?
    Ada apa dibalik semua itu?
    Apa maksut dan tujuanya?
    Taukah anda kenapa bisa terjadi suku batak?
    Jika anda memang benar2 tau sejarahya, maka anda pasti bisa menjawab dengan benar dan bisa diterima dalam akal yg sehat..
    membuat nama batak itu adalah: orang belanda. Batak bisa dia artikan pembangkang, pembrontak.
    Kenapa belanda mengatakan orang batak? Kerna belanda menilai dari sipatya..
    Seperti apakah sipat batak itu? Sipatya membangkang, deggil, keras kepala, jugul parhata sada..
    Suku apakah yg sipatya yg jugul itu? Dia adalah suku TOBA.. Sebenarya suku batak itu tidak ada. Tapi masarakat terus bertopeng SUKU BATAK dan mengaku siraja batak..
    Aneh tapi yata…
    Anehya adalah; kenapa mau pula bertahan dengan sebutan orang belanda?
    Seherusya kita mempertahankan dan mengatakan nama suku yg asli..
    Di Sumatra utara ada 5 suku yg bergabung; suku toba,, suku mandailing,, suku simalungun,, suku pakpak dairi,, suku karo..
    Kenapa dikatakan suku toba? Kerna bahasaya juga bahasa toba, dan adat istiadatya juga adat toba.. Kenapa dikatakan suku mandailing? Kerna bahasaya juga bahasa mandailing, dan adatya juga adat mandailing.. Kenapa mereka mengaku suku pakpak dairi? Kerna bahasaya juga bahasa pakpak dairi, dan adat istiadatya juga adat pakpak dairi.. Kenapa mereka mengaku suku simalungun? Kerna bahasaya juga bahasa simalungun, dan adatya juga adat simalungun.. Kenapa mereka mengaku suku karo? Kerna mereka bahasa karo, dan adatya juga adat karo..
    Naaah disini sudah jelas bisa dipahami yg sebenarya..
    Disini yg selalu mengotot, mengaku2 suku batak adalah; suku toba, masarakat dari toba..
    Berarti yg puya nama suku batak itu adalah; orang toba.. Tetapi orang toba selalu keberatan kepada suku yg lain, akibat tidak mau mengaku orang batak..
    Ada apa sebenarya maksut dan tujuan orang toba?
    Tentang sejarah kakek moyang,, orang toba juga selalu memprotesya..
    Aneh tapi yata…
    Anehya adalah; kenapa pula orang toba pula yg lebih tau tentang kakek orang lain?
    Anda masarakat toba, jangan telalu mencampuri urusan orang lain.. Klo mereka tidak mau mengaku batak, itu hak mereka,, kerena mereka juga merasa diriya bukan orang batak..

  20. Ciptaan Sejarah batak toba itu adalah palsu.. Mandailing, karo, pakpak dairi, simalungun,, tidak terima atas sejarah palsu itu..

    Batak toba penggarap,,
    batak toba pembajak,,
    batak toba pengklaim,,
    batak toba pembrontak,,
    apakah orang toba tidak sadar apa yg telah dilakukan kepada suku2 lainya?
    Anda dari orang toba harus tau diri dong..
    Anda harus meyadari apa yg anda lakukan..
    Orang toba itu adalah batak..
    Batak itu adalah pembatak, penggarap, dan pembajak..
    Wahai orang2 penggarap,, sadarlah anda sedikit, apa yg telah anda lakukan..
    Sudah jelas suku mandailing tidak mau dibilang batak, kenapa kok batak toba terus ngotot menggarap? Sudah jelas suku simalungun tidak mau mengaku batak, kenap anda tetap ribut? Sudah jelas suku pakpak dairi tidak mau dikatakan batak, mengapa anda tetap perotes? Sudah jelas suku karo tidak mau dikatakan batak, kenapa juga anda tetap keras kepala bagaikan batu? Anda ini aneh.. Dari sikap anda saja sudah jelas jauh perbedaanya.. Anda suku batak/suku toba terus mengarap.. Kami ada 4 suku yg tidak terima dikatakan suku batak,, artiya adalah: 1 lawan 4.. Anda batak cuma satu suku tapi ingin menggarap empat suku yg lainya.. Waaaaaah hebat banget anda ini? Kami tidak sebodah yg anda kira.. Kami tau asal usul kakek moyang kami, dan kami juga puya bahasa dan adat istiadat kami.. Anda jangan terus menggarap, anda jangan terus membatak,, anda adalah keturunan jahudi.. Sedangkan kami berasal dari india..
    Dasar batak pembajak, keras kepala..
    Batak itu jahudi dari israil..
    Sipatya juga sama seperti jahudi..
    Sadarlah anda, jangan terus menggongong seperti anjing kelaparan.. Perbuatan anda sungguh memalukan dasar jahudi.. Anda orang toba jangan coba2 perotes atas semua sejarah2 yg kami terbitkan.. Kami yg lebih tau sejarah kakek moyang kami, bukan anda.. Kami dari mandailing,, pakpak dari,, simalungun,, dan karo.. Kami tidak pernah protes tentang sejarah2 pribadi anda.. Tetapi anda jangan coba2 mengklaim suku2 arang lain… Seandaiya ada undang2 tentang pembajakan suku, mungkin anda dari toba sudah bayak masuk penjara..
    Sungguh terlalu, perbutan tercela..
    Dulu kakek saya pernah bercerita tentang politik2 batak toba.. Batak toba menciptakan sejarah2 palsu dan mencetak buku tarombo dengan karangan palsu. Lalu batak toba menjual buku2 tarombo tersebut.. Sejarah yg dilakukan batak toba itu, kakek ku tau semua politik2 batak toba itu… Sekarang rahasia2 kepalsuan itu sudah terbongkar diseluruh manca negara.. Simpanlah buku2 tarombo yg palsu itu, lalu anda cetak kembali dan jual saja kepada orang yg bisa anda bodoh2i..

  21. Ondian Manurung

    Kalau begitu, kenapa marga karo ada hubungannya dgn seluruh marga di Batak? Contoh : Parna. Klo di Karo yg masuk parna itu Ginting. Adat” Karo pun mirip dgn Batak. Coba liat baju adat Karo. Mirip dgn Batak Simalungun. Tudung kepala perempuan nya hampir mirip dgn simalungun, cuma agak besar klo karo. Terus, coba lihat bahasa karo. Contoh : ukur. Klo di simalungun uhur. Bahasa Karo itu sebenarnya bnyk dari bhs Simalungun dan toba. Contoh : Borgin (Toba dan Simalungun) klo di Karo Berngin. Ham (simalungun) kam klo di karo. Ulang (simalungun sama mandailing/angkola) klo di Karo Ula.
    Dan masih banyak lg. Sekian dan terima kasih.
    Horas mi di hita saluhutna.
    Mejuah-juah man banta

    • Regal ginting

      Walahhhh…
      Saya ginting bukan parna…

      Gila tu yg blng ginting parna
      Darimana asal parna itu..???
      Lubang idung..!!!

  22. Paul Kennedy Bangun

    Sudah seharusnya Saudara kita yg dr Suku Toba Mencari Jati Diri Nenek Moyang mereka yg sebenarnya krn saudara” kita dr Suku Toba masih mempercayai Mitos si Raja Batak. Karena Mitos si Raja Batak inilah mengakibatkan Kesalahan Cara Berpikir Suku Toba siapakah Mereka sebenarnya. Menurut Prof DR Harry Truman Simanjuntak bahwa Nenek Moyang Suku Karo sudah Menghuni Dataran Tinggi Karo dan Gayo pada masa 8430 tahun yg lalu atau (6500 tahun Sebelum Masehi). Dengan Penemuan dan Penelitian Ilmiah melalui DNA inilah Kami sbg Suku Karo telah Mengetahui Asal Usul Nenek Moyang Suku Karo dan Penyebarannya. Bahkan Prof Truman juga mengatakan Nenek Moyang Suku Karo inilah yg Menyebar ke Seluruh Pulau Sumatera dan menjadi Raja” di daerah yg dihuninya, termasuk Nenek Moyang Suku Karo menjadi Raja” di daerah Toba, Simalungun< Mandailing, Dairi, Melayu, Minangkabau, Riau sampai ke Sumatera Selatan.

  23. Stevhany Munthe

    Cuma orang yang berpandangan luas yang mengerti akan hal ini, Memperkeru suasana, banyak-banyak saja belajar di rumah.
    Gak jauh-jauh lah dari yang namanya ACC.
    Sifat-sifat primitif.

  24. Mangsi Ginting

    @ Feriyanti Sitanggang

    Awalnya, GBKP didirikan, diperkenalkan pada orang Karo, dan dibina oleh seorang pendeta berbangsa Belanda.. Pendeta ini mungkin tidak menyadari bahwa Karo itu ya..Karo tanpa ada embel embel Batak-nya. Nama itu belum diganti karena belum sempat kali…:)

  25. albert

    saya pernah jumpa sama marga ginting….dan orang itu juga menyebut marganya nya kelompok punguan raja naiambaton(PARNA) padahal raja naiambaton adalah suku batak

  26. Jugul saja

    ini Gue Copas aje Linknye:http://edwardsimanungkalit.blogspot.co.id/2016/01/sejarah-harus-ditulis-ulang-si-raja.html

    Edward Simanungkalit

    Kebenaran itu memerdekakan.
    Thursday, 7 January 2016
    SEJARAH HARUS DITULIS ULANG: Si Raja Batak di Antara Para Leluhur di Sumatera Utara
    SEJARAH HARUS DITULIS ULANG
    Si Raja Batak di Antara Para Leluhur di Sumatera Utara
    Oleh: Edward Simanungkalit *

    Sumatera Utara merupakan sebuah wilayah yang didiami oleh berbagai etnis yang populasi etnis tersebut cukup banyak. Di sebelahnya Provinsi Aceh, Provinsi Riau, dan Provinsi Sumatera Barat. Di Sumatera Utara sendiri terdiri dari 8 etnis, yaitu: Melayu, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing, “Batak” Toba, dan Nias. Pakpak, Karo, Simalungun, Toba, Angkola, dan Mandailing disebut oleh para antropolog sebagai “Batak”, bahkan ada penulis sejarah “Batak” berusaha menjadikan Nias sebagai bagian dari “Batak”. Akan tetapi, Pakpak, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing, dan Nias tersebut keberatan disebut “Batak”. Secara khusus, Pakpak sangat keberatan disebut “Batak” melampaui etnis lainnya, karena arti kata “Batak” itu sendiri dalam bahasa Pakpak adalah “babi”, sehingga mereka sangat keras menolak disebut “Batak”. Meskipun demikian, para leluhur dari semua etnis setempat di Sumatera Utara tadi satu-persatu akan ditelusuri asal-usulnya, sehingga menjadi terang-benderang berbagai etnis tersebut.

    Raja-Raja Karo
    Arkeolog prasejarah, Prof. DR. Harry Truman Simanjuntak, umaterayang sudah malang-melintang selama 38 tahun melakukan pelelitian arkeologi prasejarah di Indonesia ini sudah menulis lebih dari 150 karya tulis yang telah dipublikasikan. Doktor prasejarah lulusan dari Perancis ini, selain sebagai Professor Riset di Puslit Arkenas (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional), dia juga Peneliti dan Direktur dari Center for Prehistoric and Austronesian Studies (2006 – sekarang). Harry Truman Simanjuntak mengatakan, bahwa ras Australomelanesoid telah lebih dulu datang ke Sumatera setelah Sundaland tenggelam. Kemudian disusul oleh penutur Austroasiatik pada sekitar 4.300 – 4.100 tahun lalu dari Kamboja, Vietnam, dan Khmer, sedang penutur Austronesia dari Taiwan menyusul pada sekitar 4.000 tahun lalu. Penutur Austroasiatik dan penutur Austronesia ini, keduanya berasal dari Yunan, Cina Selatan. Leluhur prasejarah ini dikemukakan oleh Harry Truman Simanjuntak. Sedang pada masa sejarah, orang-orang India Selatan datang lagi ke Sumatera pada sekitar abad ke-2 dan 3 Masehi.
    Penelitian arkeologi dengan melakukan ekskavasi telah dilakukan oleh P.V. van Stein Callenfels di Deli Serdang dekat Medan (1925), H.M.E. Schurman di Langkat dekat Binjai (1927), Kupper di Langsa (1930), Edward MacKinnon di DAS Wampu (1973, 1976, 1978), Harry Truman Simanjuntak & Budisampurno di Sukajadi, Langkat (1983), di Lhok Seumawe dan oleh Tim Balai Arkeologi Medan di Aceh Tengah (2011) dan di Bener Meriah, Aceh (2012). Temuan fosil di Loyang Mandale, Aceh Tengah diperkirakan berusia 8.430 tahun Penelitian arkeologi dengan melakukan ekskavasi ini telah menemukan kapak Sumatera (Sumatralith) yang terkenal itu dan menemukan bahwa ras australomelanesoid telah datang melalui pesisir Timur Sumatera bagian Utara ini pada masa Mesolitik sekitar 10.000 – 6.000 tahun lalu.
    Berdasarkan fosil yang ditemukan di Loyang Mandale, Aceh Tengah (Gayo) yang berusia 7.400 tahun pada waktu itu (sedang temuan terbaru 8.430 tahun), maka dilakukan tes DNA terhadap fosil yang ditemukan dan sampel darah 300 lebih siswa/i Orang Gayo di Takengon. DR. Safarina G. Malik dari Eijkman Institute menyatakan, bahwa mereka itu adalah keturunan dari fosil tadi dan kekerabatan genetik antara populasi Gayo dengan Karo sangat dekat. Hal ini dikarenakan Orang Karo yang berada di dekat penelitian arkeologi tadi merupakan keturunan dari ras Australomelanesoid, yang penulis sebutkan di sini sebagai Raja-Raja Karo, yang datang pada masa Mesolitik sekitar 10.000 – 6.000 tahun lalu. Mereka ini juga yang datang ke Humbang menjadi Raja-raja Toba dan sampai ke selatan Sumatera. Itu sebabnya hasil tes DNA Orang Minangkabau, Orang Riau, dan Orang Melayu juga menunjukkan bahwa mereka adalah keturunan mereka ini. Semuanya ini cocok dengan apa yang dikemukakan oleh Prof. DR. Harry Truman sebelumnya.

    Raja-Raja Simalungun
    Arkeolog prasejarah, Prof. DR. Harry Truman Simanjuntak telah mengemukakan di atas bahwa ras australomelanesoid telah lebih dulu bermigrasi ke Sumatera. Kemudian disusul oleh penutur Austroasiatik pada sekitar 4.300 – 4.100 tahun lalu dari Kamboja, Vietnam, dan Khmer, sedang penutur Austronesia dari Taiwan menyusul pada sekitar 4.000 tahun lalu. Penutur Austroasiatik dan penutur Austronesia ini, keduanya berasal dari Yunan, Cina Selatan. Leluhur prasejarah ini dikemukakan oleh Harry Truman Simanjuntak. Ras australomelanesoid tadi datang pada masa Mesolitik di sekitar 10.000 – 6.000 tahun lalu melalui pesisir Timur Sumatera bagian Utara dan menyebar ke daerah-daerah Sumatera hingga ke Sumatera Selatan. Dari mereka inilah, penulis sebutkan di sini sebagai Raja-Raja Simalungun, yang menurunkan Orang Simalungun. Disusul penutur Austroasiatik pada sekitar 4.300 – 4.100 tahun lalu dan penutur Austronesia pada sekitar 4.000 tahun lalu atau kedua-duanya datang pada masa Neolitik di sekitar 6.000 – 2.000 tahun lalu.
    Kemudian datang lagi orang-orang India Selatan pada tahun Masehi dan mereka mendirikan Kerajaan Nagur di tanah Simalungun. Kerajaan Nagur bangkit dan berdiri sejak abad ke-6 dan mengalami kemunduran pada abad ke-15 serta tercatat di Cina pada zaman Disnasti Sui abad ke-6 (Agustono & Tim, 2012:24, 31). Dalam buku “SEJARAH ETNIS SIMALUNGUN” dikemukakan bahwa “… di daerah Tigadolok masih terdapat nama kampung bernama Nagur yang letaknya jauh di pedalaman dan sulit ditempuh. Berdekatan dengan kampung Nagur ini terdapat tempat keramat bernama Batu Gajah sisa candi peninggalan agama Hindu yang sudah pernah diteliti tim arkeologi dari Medan yang menurut perkiraan didirikan sejak abad ke-5 Masehi.” (Agustono & Tim, 2012:38). Demikianlah kedatangan orang-orang India Selatan yang kemudian mendirikan kerajaan Nagur di Simalungun pada awal millenium pertama Masehi.

    Raja-Raja Mandailing
    Arkeolog prasejarah, Prof. DR. Harry Truman Simanjuntak telah mengemukakan di atas bahwa ras australomelanesoid telah lebih dulu bermigrasi ke Sumatera. Kemudian disusul oleh penutur Austroasiatik pada sekitar 4.300 – 4.100 tahun lalu dari Kamboja, Vietnam, dan Khmer, sedang penutur Austronesia dari Taiwan menyusul pada sekitar 4.000 tahun lalu. Penutur Austroasiatik dan penutur Austronesia ini, keduanya berasal dari Yunan, Cina Selatan. Leluhur prasejarah ini dikemukakan oleh Harry Truman Simanjuntak. Ras australomelanesoid tadi datang pada masa Mesolitik di sekitar 10.000 – 6.000 tahun lalu melalui pesisir Timur Sumatera bagian Utara dan menyebar ke daerah-daerah Sumatera hingga ke Sumatera Selatan. Dari mereka inilah, penulis sebutkan di sini sebagai Raja-Raja Mandailing, yang menurunkan Orang Mandailing. Disusul penutur Austroasiatik pada sekitar 4.300 – 4.100 tahun lalu dan penutur Austronesia pada sekitar 4.000 tahun lalu, atau kedua-duanya datang pada masa Neolitik, di sekitar tahun 6.000 – 2.000 tahun lalu.
    Mandailing sudah disebutkan Gajah Mada dalam Sumpah Palapanya dalam Kitab Negarakertagama sekitar tahun 1365. Candi Simangambat merupakan temuan arkeologis di Simangambat yang berasal dari abad ke-9 Masehi. Situs-situs lain terdapat di Desa Pidoli Lombang (Saba Biaro), Desa Huta Siantar (Padang Mardia), Desa Sibanggor Julu dan lain-lain. Keberadaan candi ini membuktikan sudah ada masyarakat dengan populasi besar dan teratur di sana. Sedang Candi Portibi di Padang Lawas berasal dari abad ke-11. Pada tahun 1025, Rajendra Chola dari India Selatan memindahkan pusat pemerintahannya di Mandailing ke daerah Hang Chola (Angkola). Kerajaan India tersebut diperkirakan telah membentuk koloni mereka, yang terbentang dari Portibi hingga Pidoli. Peristiwa yang dikenal sebagai Riwajat Tanah Wakaf Bangsa Mandailing di Soengai Mati, Medan pada tahun 1925 berlanjut ke pengadilan. Akhirnya, berdasarkan hasil keputusan Pengadilan Pemerintahan Hindia Belanda di Batavia,Mandahiling diakui sebagai etnis terpisah dari Batak (wikipedia).

    Raja-Raja Pakpak
    Arkeolog prasejarah, Prof. DR. Harry Truman Simanjuntak telah mengemukakan di atas bahwa ras australomelanesoid telah lebih dulu bermigrasi ke Sumatera. Kemudian disusul oleh penutur Austroasiatik pada sekitar 4.300 – 4.100 tahun lalu dari Kamboja, Vietnam, dan Khmer, sedang penutur Austronesia dari Taiwan menyusul pada sekitar 4.000 tahun lalu. Penutur Austroasiatik dan penutur Austronesia ini, keduanya berasal dari Yunan, Cina Selatan. Leluhur prasejarah ini dikemukakan oleh Harry Truman Simanjuntak. Ras australomelanesoid tadi datang pada masa Mesolitik di sekitar 10.000 – 6.000 tahun lalu melalui pesisir Timur Sumatera bagian Utara dan menyebar ke daerah-daerah Sumatera hingga ke Sumatera Selatan. Dari mereka inilah, penulis sebutkan di sini sebagai Raja-Raja Pakpak, yang menurunkan Orang Pakpak.Disusul penutur Austroasiatik pada sekitar 4.300 – 4.100 tahun lalu dan penutur Austronesia pada sekitar 4.000 tahun lalu, atau kedua-duanya datang pada masa Neolitik, di sekitar tahun 6.000 – 2.000 tahun lalu.
    Selain itu, ada juga jejak Tamil dari India Selatan di dalam masyarakat Pakpak, karena orang-orang dari India Selatan banyak datang ke Sumatera Utara sejak sekitar abad ke-3 Masehi. Kemiripan hasil-hasil budaya Pakpak (dengan India) merupakan buah dari kontak dagang Pakpak dengan India (Tamil). Khususnya Barus merupakan bandar internasional, menjadi gerbang bagi transfer budaya dari India terhadap budaya Pakpak yang terjadi setidaknya sejak akhir abad ke-10 M atau awal abad ke-11 M. Sejumlah unsur budaya India itu telah memperkaya kebudayaan Pakpak sebagaimana dapat dilihat jejak-jejaknya hingga kini (Soedewo, 2008, dalam https://balarmedan.wordpress.com). Parultop Padang Batanghari memiliki putri Pinggan Matio, yang dikawini Raja Silahisabungan. Pdt. Abednego Padang Batanghari menyebutkan bahwa Parultop merupakan generasi kesembilan dari marga Padang Batanghari (Tabloid TANO BATAK, Edisi Oktober 2010).

    Raja-Raja Nias
    Penelitian Arkeologi telah dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999 yangmenemukan bahwa sudah ada manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam. Mereka inibermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun lampau, kata Prof. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional dan LIPI Jakarta. Pada masa itu hanya budaya Hoabinh, Vietnam yang sama dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga kalau asal usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kini menjadi negara yang disebut Vietnam (Wikipedia).
    Penelitian genetika terbaru menemukan, bahwa masyarakat Nias berasal dari rumpun bangsa Austronesia. Nenek moyang orang Nias diperkirakan datang dari Taiwan melalui jalur Filipina 4.000-5.000 tahun lalu. Mannis van Oven, mahasiswa doktoral dari Department of Forensic Molecular Biology, Erasmus MC-University Medical Center Rotterdam, memaparkan hasil temuannya di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Jakarta, Senin (15/4/2013). Dalam penelitian yang telah berlangsung sekitar 10 tahun ini, Oven dan anggota timnya meneliti 440 contoh darah warga di 11 desa di Pulau Nias (Wikipedia). Dalam genetika orang Nias tidak ditemukan dari masyarakat Nias kuno yang hidup 12.000 tahun lalu (Kompas, 16/04-2013). DNA Nias ini sudah diperbandingkan dengan DNA Karo dan “Batak” (Toba). ”Untuk membandingkannya, Van Oven mengintip darah Karo dan Batak serta menemukan marka DNA yang lebih variatif. Anehnya lagi, kedua etnis yang bertetangga wilayahnya dengan Pulau Nias ini tak memiliki dua marka genetik Nias.” (Tempo, 17/04-2013). Jelas, bahwa DNA Nias berbeda dengan DNA Toba maupun Karo.

    Raja-Raja Melayu
    Sebagaimana telah dikemukakan Prof. DR. Harry Truman bahwa Ras Australomelanesoid yang seperti Papua (Negrito) datang ke Sumatera diikuti penutur Austroasiatik sekitar 4.300 tahun lalu dan penutur Austronesia sekitar 4.000 tahun lalu. Mereka datang pada masa prasejarah yang diikuti kemudian orang-orang India Selatan pada millenium pertama sekitar abad kedua atau ketiga. Orang Melayu berada di sekitar dilakukannya ekskavasi arkeologi di daerah Deli Serdang dan Langkat yang membuktikan kedatangan orang-orang Negrito, pendukung budaya Hoabinh pada masa Mesolitik sekitar 10.000-6.000 tahun lalu. Hasil tes DNA Melayu ini terdapat unsur Negrito, Austroasiatik, Austronesia, dan India ditambah lain-lainnya, sehingga mereka sudah berada di Sumatera Utara pada masa prasejarah.

    Raja-Raja Aceh & Raja-Raja Jau
    Temuan fosil manusia di Loyang Mandale, Aceh Tengah yang berusia 7.400 tahun (temuan terbaru 8.430 tahun), maka telah dilakukan tes DNA terhadap fosil yang ditemukan tersebut dan sampel darah 300 lebih siswa/i di Takengon. Dr. Safarina G. Malik dari Eijkman Institute menyampaikan bahwa orang Aceh Gayo adalah keturunan fosil tersebut yang merupakan ras Australomelanesoid atau Orang Negrito, pendukung budaya Hoabinh. Secara genetic, Aceh Gayo ini berkerabat sangat dekat dengan Karo (Kaber Gayo, 10/12-2011; Lintas Gayo, 08/03-2012).
    Raja Jau yang dimaksudkan oleh W.M. Hutagalung dalam bukunya dapat juga ditafsirkan sebagai Raja Jawa. Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah sudah eksis pada abad ke-6 yang ada kaitannya dengan orang-orang dari India Selatan, sedang Candi Borobudur dibangun pada abad ke-8. Sebelumnya di masa prasejarah sebagaimana telah dikemukakan oleh Prof. DR. Harry Truman Simanjuntak bahwa Ras Australomelanesoid (Orang Negrito) telah datang ke pulau Jawa. Kemudian disusul penutur Austroasiatik di sekitar 4.300 – 4.100 tahun lalu dan penutur Austronesia di sekitar 4.000 tahun lalu. Inilah yang datang ke pulau Jawa pada masa prasejarah sebelum kemudian datang lagi orang-orang India Selatan.

    Raja-Raja Toba
    Di Humbang, mulai dari Silaban Rura hingga Siborong-borong, yang sekarang berada di Kabupaten Tapanuli
    Utara dan Kabupaten Humbang Hasundutan, telah ditemukan adanya aktivitas banyak manusia sekitar 6.500 tahun lalu. Dalam bukunya “Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia”, Peter Bellwood (2000:339) menulis: “Sebagai contoh, sebuah inti polen dari rawa Pea Simsim dekat Danau Toba di Sumatera bagian Utara (1.450 m dpl) menunjukkan bahwa pembukaan hutan kecil-kecilan mungkin sudah dimulai pada 4.500 Sebelum Masehi.”. Bellwood merujuk kepada hasil penelitian paleontologi oleh Bernard Kevin Maloney (1979) dari Universitas Hull, Inggris, di daerah Humbang, sebelah barat Danau Toba.
    Penelitian paleontologi atas pembukaan hutan ini dilakukan pada 4 (empat) tempat, yaitu: di Pea Simsim, sebelah barat Nagasaribu, di Pea Bullock, dekat Silangit – Siborongborong, di Pea Sijajap, daerah Simamora Nabolak, dan di Tao Sipinggan, Silaban (www.anu.edu.au; http://www.manoa.hawaii.edu; http://www.lib.washington.edu). Penelitian ini membuktikan bahwa telah ada aktivitas manusia sekitar 6.500 tahun lalu di Humbang. Mereka itu datang dari pesisir timur Sumatera bagian Utara yang telah dilakukan beberapa kali penelitian arkeologi prasejarah di beberapa tempat mulai dari Serdang dekat Medan sampai Lhok Seumawe. Mereka itu adalah orang-orang Negrito dari ras Australomelanesoid yang datang pada masa Mesolitik sekitar 10.000 – 6.000 tahun lalu seperti telah dikemukakan oleh Prof. DR. Harrya Truman Simanjuntak juga sebelumnya (ORANG TOBA: Asal-usul, Jatidiri, dan Mitos Sianjur Mulamula, 2015:21-24). Mereka ini banyak dan penulis namakan mereka dengan nama Raja-Raja Toba, karena hanya menurunkan Orang Toba. Jadi, Raja-Raja Toba bukan satu orang figur, tetapi lebih dari satu orang atau banyak orang dan mereka itu yang menurunkan Orang Toba terbukti dari DNA-nya (2015:31-35).

    Si Raja Batak
    Selama ini Si Raja Batak disebut-sebut sebagai nenek-moyang Suku Batak. Si Raja Batak disebutkan nama kampungnya di Sianjur Mulamula di kaki Pusuk Buhit, yang sekarang berada di daerah Kabupaten Samosir. Berdasarkan mitologi seperti yang ditulis oleh W.M. Hutagalung, dalam bukunya: “PUSTAHA BATAK: Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak” (1926), bahwa Si Raja Batak merupakan keturunan dari Raja Ihatmanisia yang merupakan anak dari Si Borudeak Parujar dalam perkawinannya dengan Raja Odapodap dari Langit Ketujuh. Berbagai tulisan maupun buku-buku sejarah “Batak” lainnya menyebutkan bahwa Si Raja Batak berasal dari Hindia Belakang dan membuka kampung di Sianjur Mulamula. Walaupun ada versi-versi asal-usul lain, tetapi pada dasarnya Si Raja Batak sampai di Sianjur Mulamula yang disebut merupakan kampung awal Bangso Batak atau Suku Batak (2015:1-11).
    Para penulis “Sejarah Batak” tadi menyebutkan bahwa keturunan Si Raja Batak pergi menyebar dan membentuk Batak Toba, Batak Pakpak, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing. Secara khusus, W.M. Hutagalung (1926) menulis tarombo di mana marga-marga Pakpak, Karo, Simalungun, dan Mandailing merupakan keturunan Si Raja Batak dari marga-marga Toba. Dengan demikian, selain keturunan Si Raja Batak, maka seluruh marga-marga Pakpak, Karo, Simalungun, dan Mandailing itu adalah keturunan Batak Toba juga yang kesemuanya disebut Bangso Batak/Suku Batak, sehingga Batak Toba merupakan induk dari marga-marga Pakpak, Karo, Simalungun, dan Mandailing. Memang masih ada buku-buku yang menguraikan tentang marga-marga bahkan ada yang memasukkan Nias sebagai sub-etnik Batak yang merupakan keturunan Raja Asi-asi.
    Kemudian Raja Aceh yang pergi ke Gayo dan Raja Jau ke tanah Jawa berasal dari Sianjur Mulamula. Akan tetapi, buku W.M. Hutagalung (1926) yang paling menarik, karena paling laris manis, sehingga paling banyak dibaca oleh masyarakat dan tentulah dapat diperkirakan pengaruhnya demikian luas. Setelah Bibel, Buku Ende, dan Almanak Gereja, sepertinya buku inilah yang paling banyak dibeli masyarakat terutama masyarakat Toba.
    Pada tebing bukit di Sianjur Mulamula, Samosir ada dibuat tulisan: “PUSUK BUHIT – SIANJUR MULAMULA – MULA NI HALAK BATAK – 5 SUKU: BATAK TOBA, BATAK MANDAILING, BATAK KARO, BATAK PAPPAK, BATAK SIMALUNGUN”. Selanjutnya, Monumen Pintu Gerbang Tomok memuat tulisan: BATAK TOBA, BATAK SIMALUNGUN, BATAK MANDAILING, BATAK ANGKOLA, BATAK PAKPAK, BATAK KARO. Sementara dalam website Pemkab Samosir, tentang Si Raja Batak ini ditulis sebagai berikut: “Si Raja Batak, yang tinggal di Kaki Gunung Pusuk Buhit mempunyai dua putra, yaitu Guru Tateabulan dan Raja Isumbaon. Kemudian nama dua putra ini menjadi nama dari dua kelompok besar marga Bangso Batak/Suku Batak, yaitu Lontung dan Sumba. Dari kedua kelompok marga ini lahirlah marga-marga orang Batak, yang saat ini sudah hampir 500 marga. Sampai saat ini orang Batak mempercayai bahwa asal mula Bangso Batak/Suku Batak ada di Pusuk Buhit Sianjur Mulamula.” (www.samosirkab.go.id).
    Kemudian mengenai masa hidup Si Raja Batak ini, maka dikemukakan beberapa pihak sebagai berikut:
    Richard Sinaga, dalam bukunya “LELUHUR MARGA MARGA BATAK, DALAM SEJARAH SILSILAH DAN LEGENDA” (1997) mengemukakan bahwa masa hidup Si Raja Batak
    kira-kira pada tahun 1200 Masehi atau awal abad ke-13 Masehi.
    Batara Sangti Simanjuntak, dalam bukunya berjudul “Sejarah Batak”, mengatakan bahwa Si Raja Batak di Tanah Batak baru ada pada tahun 1305 Masehi atau awal abad ke-14 Masehi.
    Kondar Situmorang, dalam Harian Sinar Indonesia Baru terbitan tanggal 26 September 1987 dan tanggal 03 Oktober 1987 serta tanggal 24 Oktober 1987, dengan judul “Menapak Sejarah Batak”, mengatakan bahwa Si Raja Batak baru ada pada tahun 1475 Masehi.
    Sarman P. Sagala, dalam website Pemkab Samosir mengatakan, bahwa Si Raja Batak hidup pada tahun 1200 atau awal abad ke-13 (http://dishubkominfo.samosirkab.go.id/).
    Ketut Wiradnyana, arkeolog Balai Arkeologi Medan yang telah melakukan penelitian arkeologi di Samosir, dalam seminar “Telaah Mitos dan Sejarah dalam Asal Usul Orang Batak” di Unimed (Jumat, 09/01-2015), mengatakan bahwa orang Batak pertama di Sianjurmulamula dan mereka telah bermukim di sana sejak 600-1000 tahun yang lalu (http://humas.unimed.ac.id).
    Prof. Dr. Uli Kozok, dalam seminar “Telaah Mitos dan Sejarah dalam Asal Usul Orang Batak” di Unimed (Jumat, 09/01-2015), mengemukakan bahwa Si Raja Batak lahir sekitar 600-800 tahun yang lalu (http://humas.unimed.ac.id).
    Demikianlah telah diuraikan di atas tentang masa hidup Si Raja Batak sebagaimana dikemukakan tadi keseluruhannya berkisar antara 500-1000 tahun lalu atau tidak lebih dari 1000 tahun.

    Sejarah Harus Ditulis Ulang
    Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa Si Raja Batak itu disebutkan menurunkan Batak Toba, Batak Pakpak, Batak Karo, Batak Simalungun, dan Batak Mandailing. Oleh karena namanya Si Raja Batak, makanya keturunannya menyandang kata “Batak” juga seperti halnya marga. Seperti itulah pemahaman di Toba, yang diyakini bahwa semua yang disebutkan tadi menyebar dari Sianjur Mulamula, sehingga bila ada pihak yang mengatakan bahwa mereka bukan Batak, maka itu dipahami sebagai durhaka, karena menyangkal leluhurnya. Demikianlah pemahaman di Toba, sehingga membuat mereka sulit menerima pihak-pihak lain yang mengatakan “bukan Batak”, karena menganggap Si Raja Batak mempunyai hubungan genealogis dengan Batak Toba, Batak Pakpak, Batak Karo, Batak Simalungun, dan Batak Mandailing.
    Telah diuraikan di atas bahwa jumlah marga-marga dari Bangso Batak/Suku Batak yang merupakan keturunan Si Raja Batak sekitar hampir 500 marga dari Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, dan Mandailing (termasuk Angkola). Jadi, berdasarkan uraian tadi, maka Tanah Toba, Tanah Pakpak, Tanah Karo, Tanah Simalungun, dan Tanah Mandailing sebelumnya kosong. Baru setelah Si Raja Batak datang ke Sianjur Mulamula dan keturunannya mulai berkembang barulah mereka menyebar ke daerah-daerah tersebut, maka terbentuklah BANGSO BATAK seperti yang disebutkan tadi. Pertanyaannya, benarkah masing-masing daerah ini adalah tanah kosong yang belum didiami oleh manusia sebelum keturunan Si Raja Batak datang mendiami tanah kosong tersebut? Tentu tidak demikian, karena sudah banyak manusia datang ke seluruh daerah di Sumatera Utara sebelum Si Raja Batak tiba di Sianjur Mulamula, kaki Pusuk Buhit, Samosir.
    Raja-Raja Karo, Raja-Raja Simalungun, Raja-Raja Mandailing, Raja-Raja Pakpak, dan Raja-Raja Toba lebih dulu berdiam di Sumatera Utara yang datang pada masa Mesolitik, sekitar 10.000 – 6.000 tahun lalu (2015:41-42), sedang masa hidup Si Raja Batak dari Sianjur Mulamula itu paling lama 1.000 tahun lalu. Dengan demikian, Si Raja Batak adalah pendatang baru di Sianjur Mulamula yang kedatangannya memiliki selisih waktu setidaknya 5.000 tahun lebih dulu Raja-Raja Karo, Raja-Raja Simalungun, Raja-Raja Mandailing, Raja-Raja Pakpak, dan Raja-Raja Toba. Itu sebabnya dapat dipastikan bahwa Orang Karo, Orang Simalungun, Orang Mandailing, dan Orang Pakpak bukan berasal dari Sianjur Mulamula, sehingga sama sekali bukanlah keturunan Si Raja Batak. Kalaupun terjadi migrasi marga-marga tertentu dari Toba ke daerah Karo, daerah Simalungun, daerah Mandailing, dan daerah Pakpak, maka hal itu bukan berarti menjadikan etnis Karo, etnis Simalungun, etnis Mandailing, dan etnia Pakpak berasal dari Toba. Kalaupun W.M. Hutagalung dan penulis-penulis Sejarah Batak lain menyebutkan dan mengklaim bahwa semua marga Karo, marga Simalungun, marga Mandailing, dan marga Pakpak berasal dari Toba sebagai keturunan Si Raja Batak, maka hal itu jelas tidak sesuai dengan fakta.
    Etnis Karo sudah ada berdiam di Tanah Karo sebelum Si Raja Batak tiba di Sianjur Mulamula. Mereka berbahasa Karo yang termasuk rumpun bahasa Austronesia. Kemudian terjadi migrasi dari tetangga-tetangganya ke Tanah Karo, sehingga terjadi percampuran lagi dan mereka yang datang ini hidup mengikuti budaya Karo. Demikian juga dari Karo pun ada terjadi migrasi ke luar yaitu ke tetangga-tetangganya. Sebagai sebuah etnis, Etnis Karo memiliki tanah ulayat, masyarakat, bahasa, budaya, kepercayaan tradisional (agama suku), dan mitologi sendiri. Inilah etnis Karo yang sekarang dan pada dasarnya etnis Karo itu terbentuk sendiri, sehingga bukan diturunkan Si Raja Batak dari Sianjur Mulamula seperti dikemukakan oleh W.M. Hutagalung yang secara prinsip diikuti oleh penulis-penulis sejarah Batak lainnya.
    Etnis Simalungun sudah berdiam di Tanah Simalungun sebelum Si Raja Batak tiba di Sianjur Mulamula. Mereka berbahasa Simalungun yang termasuk rumpun bahasa Austronesia. Kemudian terjadi migrasi dari tetangga-tetangganya ke Tanah Simalungun, sehingga terjadi percampuran lagi dan mereka yang datang ini hidup mengikuti budaya Simalungun/Ahap Simalungun. Demikian juga dari Simalungun pun ada terjadi migrasi ke luar yaitu ke tetangga-tetangganya. Sebagai sebuah etnis, Etnis Simalungun memiliki tanah ulayat, masyarakat, bahasa, budaya, kepercayaan tradisional (agama suku), dan mitologi sendiri. Inilah etnis Simalungun yang sekarang dan pada dasarnya etnis Simalungun itu terbentuk sendiri, sehingga bukan diturunkan Si Raja Batak dari Sianjur Mulamula seperti dikemukakan oleh W.M. Hutagalung yang secara prinsip diikuti oleh penulis-penulis sejarah Batak lainnya.
    Etnis Mandailing sudah berdiam di Tanah Mandailing sebelum Si Raja Batak tiba di Sianjur Mulamula. Mereka berbahasa Mandailing yang termasuk rumpun bahasa Austronesia. Kemudian terjadi migrasi dari tetangga-tetangganya, sehingga terjadi lagi percampuran dan mereka yang datang ini hidup mengikuti budaya Mandailing. Demikian juga dari Mandailing pun ada terjadi migrasi ke luar yaitu ke tetangga-tetangganya. Sebagai sebuah etnis, Etnis Mandailing memiliki tanah ulayat, masyarakat, bahasa, budaya, kepercayaan tradisional (agama suku), dan mitologi sendiri. Inilah etnis Mandailing yang sekarang dan pada dasarnya etnis Mandailing terbentuk sendiri, sehingga bukan keturunan Si Raja Batak dari Sianjur Mulamula seperti dikemukakan oleh W.M. Hutagalung yang secara prinsip diikuti oleh penulis-penulis sejarah Batak lainnya.
    Etnis Pakpak sudah berdiam di Tanah Pakpak sebelum Si Raja Batak tiba di Sianjur Mulamula. Mereka berbahasa Pakpak yang termasuk rumpun bahasa Austronesia. Kemudian terjadi migrasi dari tetangga-tetangganya, sehingga terjadi lagi percampuran dan mereka yang datang ini hidup mengikuti budaya Pakpak. Demikian juga dari Pakpak pun ada terjadi migrasi ke luar yaitu ke tetangga-tetangganya. Sebagai sebuah etnis, Etnis Pakpak memiliki tanah ulayat, masyarakat, bahasa, budaya, kepercayaan tradisional (agama suku), dan mitologi sendiri. Inilah etnis Pakpak yang sekarang dan pada dasarnya etnis Pakpak terbentuk sendiri, sehingga bukan keturunan Si Raja Batak dari Sianjur Mulamula seperti dikemukakan oleh W.M. Hutagalung yang secara prinsip diikuti oleh penulis-penulis sejarah Batak lainnya.
    Etnis Nias sudah berdiam di pulau Nias sebelum Si Raja Batak tiba di Sianjur Mulamula. Mereka berbahasa Nias yang termasuk rumpun bahasa Austronesia. Mereka nyaris tidak mengalami percampuran di masa lalu, karena jauh dari daratan Sumatera dan setelah terjadi migrasi baru terjadi percampuran sedikit sehubungan dengan transportasi yang semakin baik. Sebagai sebuah etnis, Etnis Nias memiliki tanah ulayat, masyarakat, bahasa, budaya, kepercayaan tradisional (agama suku), dan mitologi sendiri. Inilah etnis Nias yang sekarang dan pada dasarnya etnis Nias terbentuk sendiri, sehingga bukan keturunan Si Raja Batak dari Sianjur Mulamula seperti yang dikemukakan oleh W.M. Hutagalung yang secara prinsip diikuti oleh penulis-penulis sejarah Batak lainnya.
    Etnis Melayu sudah berdiam di Sumatera Utara sebelum Si Raja Batak tiba di Sianjur Mulamula. Mereka telah mulai terbentuk sejak masa prasejarah dan masih terus bercampur seiring dengan datangnya para migran dari Asia Daratan. Dengan demikian, jelaslah gambaran masyarakat di Sumatera Utara di masa lalu yang membentuk berbagai etnis secara sendiri-sendiri.
    Etnis Aceh (Gayo) dan Etnis Jau (Jawa) dapat dipastikan bukan berasal dari Sianjur Mulamula, sehingga bukan keturunan Si Raja Batak sama sekali. Kedua etnis ini sudah terlalu tua jika hendak dibandingkan dengan Si Raja Batak dari Sianjur Mulamula, karena kedua etnis ini sudah ada pada masa prasejarah sementara Si Raja Batak datang pada millennium kedua di Sianjur Mulamula. Dengan demikian, etnis Aceh (Gayo) dan etnis Jau (Jawa) bukanlah berasal dari Sianjur Mulamula seperti yang dikemukakan oleh W.M. Hutagalung.
    Turiturian dan tarombo yang ditulis oleh W.M. Hutagalung di dalam bukunya “PUSTAHA BATAK: Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak” (1926) yang berpangkal kepada figur Si Raja Batak dari Sianjur Mulamula di Samosir terbukti telah gugur. Buku-buku Sejarah Batak yang pada dasarnya merujuk kepada buku W.M. Hutagalung
    (1926) tadi harus ditulis ulang kembali, karena ternyata Orang Toba merupakan keturunan Raja-Raja Toba dari Humbang yang diperkirakan hidup sekitar 6.500 tahun lalu. Etnis Karo juga adalah keturunan Raja-Raja Karo, Etnis Simalungun adalah keturunan Raja-Raja Simalungun, Etnis Mandailing adalah keturunan Raja-Raja Mandailing, etnis Pakpak adalah keturunan Raja-Raja Pakpak, dan etnis Nias adalah keturunan Raja-Raja Nias, yang diperkirakan sama masa hidupnya dengan Raja-Raja Toba, yang setidak-tidaknya 4.000 – 5.000 tahun lebih dulu dari Si Raja Batak, sehingga mereka bukan berasal dari Sianjur Mulamula dan bukan keturunan Si Raja Batak sama sekali. Seluruh leluhur etnis di Sumatera Utara yang datang pada masa prasejarah lebih tua daripada Si Raja Batak yang datang ke Sumatera Utara pada millennium kedua tahun Masehi. Si Raja Batak hanyalah pendatang baru di Sumatera Utara, sehingga tidak mungkin menurunkan semua etnis di Sumatera Utara yang disebutkan tadi. Dengan demikian, Belanda melalui W.M. Hutagalung selama ini hanya berusaha mendirikan menara di atas pasir dengan menciptakan tokoh sentral SI RAJA BATAK yang disebutnya sebagai nenek-moyang BANGSO BATAK atau SUKU BATAK dan menara itu telah rubuh seiring dengan pengungkapan fakta-fakta di atas. Oleh karena itu, sejarah peradaban yang dipengaruhi oleh Belanda melalui W.M. Hutagalung ini dan penulis-penulis lainnya harus ditulis ulang kembali. ***

    Catatan kaki:
    Tulisan ini terkait dengan tulisan-tulisan berikut: ORANG TOBA: DNA, Negeri, Budaya, dan Asal-usulnya; ORANG TOBA: Austronesia, Austroasiatik, dan Negrito; ORANG TOBA: Bukan Keturunan Si Borudeak Parujar; PUSUK BUHIT BUKAN GUNUNG LELUHUR ORANG TOBA; uMULAMULA; SI RAJA BATAK ATAU SI RAJA TOBA?; ORANG SIMALUNGUN KETURUNAN SI RAJA BATAK DARI SIANJUR MULAMULA – PUSUK BUHIT; FAKTA ATAU MITOS?;
    ORANG PAKPAK: Hubungannya dengan Si Raja Batak; Fakta atau Mitos? ORANG KARO: Hubungannya dengan Si Raja Batak; Fakta atau Mitos?; ORANG SIMALUNGUN: Hubungannya dengan Si Raja Batak; Fakta atau Mitos?; ORANG MANDAILING: Hubungannya dengan Si Raja Batak; Fakta atau Mitos?; MEMBAYANGKAN PAKPAK SEBAGAI ETNIS TERSENDIRI: Sebuah Renungan; HALAK TOBA – ORANG TOBA, yang semuanya ditulis oleh Edward Simanungkalit (Lihat di blog ini). Dan, tulisan-tulisan di http://www.kompasiana.com/edwardsimanungkalit

  27. Yuni Sitepu

    Ingat kata leluhur/pahlawan kita dulu “Apa yg sudah ku persatukan jgn lagi kau hancurkan/perdebatkan. Tugasmu sekarang adlah menjaga persatuan itu agar tetap utuh”
    Bagiku karo itu batak atau bukan gk masalah.. Yg penting kt smua_y hidup rukun.. Jgn sok2 an mau memisahkan diri..
    Kalau masalah silsilah, ya nama_y jg cerita rakyat gk akan ada habis_y d’perdebatkan drmna asal_y krna kt gk ikut hidup d’jaman itu utk tw fakta sebenar_y.. n pada inti_y smwa itu berasal dr Adam n Hawa kan.. Jd stop KBB.. Kt hidup d’tanah yg sama jgn saling beradu argumen trus.
    Bujur

    • Karo

      ini dia sudut pandang yang susah ;)

      kita buka memisahkan diri, bukan berarti dengan mengikrarkan Karo bukan Batak kita tidak lagi menjadi saudara dengan orang toba, mandailing, dan lain sebagainya. Intinya ini untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya. Kalo anda menganggap itu tidak penting tidak jadi masalah, tapi yang di sayangkan sekarang kebanyakan orang udah lupa dengan jati dirinya.

      Karena kita tidak hidup di jaman dulu, dan berdasarkan fakta yang ada walaupun berat untuk menerima, karo bukan orang batak. Adam dan Hawa itu tidak bisa dibuktikan dengan bukti-bukti nyata ;) jadi itu sangat berbeda dengan argumen karo bukan batak yang sudah banyak buktinya.

      Kita bisa menanjutkan diskusi ini kalo kam memberikan bukti yang sebaliknya.

      Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *