Karo Targetkan Produksi 49.826 Ton Kentang

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karo menargetkan produksi kentang sepanjang tahun 2011 sebanyak 49.826 ton dari lahan seluas 3.110 hektare. Peningkatan target produksi ini didasarkan pada pengembangan benih kentang dari Granola G0 ke Granola G1 oleh Gabungan Kelompok Petani (Gapoktan) di Tanah Karo. “Pengembangan benih kentang dari Granola 0 ke Granola 1, menjadi dasar Pemkab Karo dan Gapoktan untuk menargetkan produksi kentang sebanyak 49.826 ton kentang untuk masa tanam 2011 ini. Tanah Karo juga masih menyimpan potensi yang besar untuk pengembangan kentang dan itu tidak boleh disia-siakan,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Pemkab Karo, Agustoni Tarigan, pada acara Penanaman Perdana Penangkaran Bibit Kentang Granola G1 dan Penyerahan Green House Bantuan Bank Indonesia (BI), serta sarasehan “Permasalahan dan Solusi dalam Budidaya Kentang”, di Desa Suka, Kecamatan Tiga Panah, Kabanjahe, Rabu (21/9). Hadir juga dalam kegiatan tersebut Bupati Karo Kena Ukur Karo Jambi Surbakti, Pemimpin BI Kantor Regional Sumut dan Aceh Nasser Atorf, Ketua DPRD Karo Siti Aminah Perangin-angin, Ketua Forum Pengembangan Karo Petrus Sitepu, pimpinan bank se-Kabupaten Karo serta Gapoktan Tanah Karo. Dikatakan Agustoni, total lahan kentang di Karo seluas 4.139 hektare. Namun untuk tahun 2011, sasaran untuk produksi hanya 3.110 hektare. Sementara sisanya seluas 1.029 hektare untuk target produksi 2012. Menurutnya, selain untuk konsumsi Karo dan Sumut, kentang produksi daerah ini juga untuk ekspor.

Meski diakuinya, beberapa tahun belakangan ada penurunan ekspor akibat petani di Karo yang masih tergantung pada penggunaan pestisida, sementara pasar Eropa yang merupakan tujuan ekspor sudah beralih kepada tanaman kentang organik. Begitupun petani Karo, tambahnya, akan kembali melirik pasar ekspor dengan melakukan pengembangan bibit kentang. Dengan pengembangan ini, dikatakan Agustono, produksi kentang Tanah Karo bisa naik menjadi 30 ton per hektare dari rata-rata 16 ton per hektare. Meski diakuinya, untuk pengembangan benih kentang masih ditemukan masalah seperti kucuran modal yang masih cukup sulit dari perbankan, namun Gapoktan di Tanah Karo akan tetap komitmen untuk melakukan pengembangan secara kontinu untuk bisa kembali menguasai pasar ekspor.

Bupati Karo Kena Ukur Karo Jambi Surbakti, mengungkapkan, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Dinas Pertanian serta penyuluh untuk membantu Gapoktan dalam pengembangan produksi kentang di Tanah Karo. “Kita akan terus bersinergi dengan Dinas Pertanian maupun penyuluh untuk menyokong Gapoktan supaya produksi kentang bisa mencapai target. Ini juga akan menjadi satu titik balik bagi petani Karo untuk kembali bisa menembus pasar ekspor, dimana belakangan semakin susah untuk mengirim dalam jumlah yang besar,” katanya. Pemimpin BI Kantor Regional Sumut dan Aceh Nasser Atorf, mengungkapkan, kebutuhan benih kentang bermutu untuk daerah Sumut khususnya daerah Karo belum terpenuhi sehingga perlu dilakukan pengembangan atau pun pemulihan benih tanaman kentang agar produksi tercapai. “Dengan adanya varietas unggul dan alur benih yang jelas, bisa menjadi faktor penentu dalam sistem agribisnis dalam meningkatkan produksi kentang di Sumut. Ini juga akan mengurangi benih palsu dan kwadaluarsa yang beredar di pasaran,” ungkapnya. Ia menambahkan, perbankan juga akan konsisten untuk membantu skim kredit bagi petani guna menyokong permodalan. Dalam kesempatan tersebut, BI juga menyerahkan bantuan berupa screen house. Menurut Nasser, permasalahan dalam budidaya kentang granola juga disebabkan tidak tersedianya screen house atau media pembibitan kentang yang steril. “Dengan screen house ini, kemungkinan pengembangan bibit kentang akan bisa menghasilkan produksi kentang yang berkualitas ekspor,” pungkasnya. (elvidaris simamora/medanbisnis)

463 KK Warga Agara di Tanah Karo Dipulangkan

Sebanyak 463 Kepala Keluarga (KK) warga Aceh Tenggara yang selama ini berdomisili di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara, akan dipulangkan dan ditempatkan di Kecamatan Leuser, Agara.

Pemindahan warga Agara itu, kata Kadis Sosial Aceh Tenggara, Djahidinsyah, kepada Serambinews.com, Senin (19/9) dilakukan secara bertahap. Untuk tahap pertama akan dipindahkan sebanyak 100 KK. Mereka akan menempati rumah bantuan di komplek Perumahan Komunitas Adat Terpencil (KAT) Desa Seurakut, Kecamatan Leuser.

Untuk proses pemindahan warga itu, kata Djahidinsyah, setelah dana dari Pemkab Agara yang akan dicairkan bulan September 2011 ini. Warga akan menempati rumah yang sudah rampung dibangun pada Maret 2011 lalu. Selain itu setiap KK akan diberikan jatah hidup (jadup) selama enam bulan, peralatan dapur, dan peralatan perkebunan dan hal ini dialokasikan dari dana APBK.

Pemkab Agara, sudah membangun 100 unit rumah yang dari dana Otsus Aceh sebesar Rp 4,8 Miliar. Untuk satu unit rumah berkonstruksi kayu dengan atap seng menghabiskan biaya sebesar Rp 48,6 juta.

Saat ini juga sedang dibangun rumah tahap ke II tipe yang sama sebanyak 90 unit di Desa Permata Musara, Kecamatan Leuser. Rumah tersebut dibangun dari dana Otsus Aceh sebesar Rp 4,3 Miliar. Rencananya dilanjutkan pembangunan tahap ke III sebanyak 123 unit.

“Rumah itu nantinya diprioritaskan untuk warga Agara yang selama ini berdomisili di Tanah Karo, Medan dan bukan untuk warga yang selama ini berdomisili di Agara. Warga yang dapat rumah itu sesuai SK Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf dan yang tak ada dalam SK tidak diberikan.(*tribunnews)

Jusup Sitepu : Seniman Karo Fenomenal dan Legendaris

jusup sitepu

Seniman Karo Fenomenal dan Legendaris
Julianus P Limbeng

Tahun 1992 ketika pertama sekali lagu saya masuk ke dapur rekaman, di studio Nada Tara Medan saat itu, disanalah pertama sekali saya bertemu langsung dengan Jusuf Sitepu dan Ermawati br Karo. Setelah itu saya tidak pernah lagi bertemu langsung dengan beliau hingga ia meninggal dunia. Namun beliau bagi saya merupakan seniman Karo yang cukup fenomena dan legendaries. Ia tidak hanya mewarnai dan memberikan nuansa baru terhadap kesenian Karo, tetapi menjadi ikon dan sangat popular pada jamannya.

jusup sitepu“Sangana berngi nake i Jogjakarta Kuinget lalap seh kal jilena bage Oh Kristina.. Ohhh.. KristinaBeru Jawa-ngku …” Demikianlah salah satu syair lagu yang pernah cukup populer di masyarakat Karo. Tahun-tahun 70-an hingga 80-an, orang Karo tak ada yang tak kenal dengan Jusup Sitepu. Meskipun penampilannya sederhana dan terkesan urakan, namun dari dia telah muncul berbagai lagu yang tidak hanya mewarnai seni suara Karo, tetapi juga memberikan ciri khas tersendiri.

Jusuf Sitepu dilahirkan di Desa Batu Karang, Tanah Karo bertepatan dengan hari Natal, 25 Desember 1947 dari pasangan Mangsi Sitepu dan Tandangen br Peranginangin. Anak bungsu dari tiga bersaudara ini mengenyam pendidikan SD hingga SMP di Batu Karang, SMA di Pancur Batu, dan selanjutnyua pada tahun 1967 melanjutkan studinya (kuliah) di Yogyakarta. Sewaktu kecil, Yusuf Sitepu telah menampakkan bakat seninya. Oleh sebab itu ia dibelikan gitar bermerk Kapok saat itu.

Demikian juga ketika studi di Yogyakarta, ia juga pernah memenangkan sayembara lagu Karo memperebutkan piala Letjend Jamin Gintings. Namun kulaihnya di kota gudeg tersebut tidak diselesaikannya, dan pada tahun 1968 ketika ia mudik tahun baru, ia tidak pulang lagi ke Yogyakarta, malah ia berbaur dengan pemuda sebayanya membentuk sebuah grup band “The Giant Group”. Awalnya gup musik ini tidak mempunyai alat musik. Kala ada tawaran main musik, maka mereka akan menyewa peralatan dari Kabanjahe.

Penampilan mereka mendapat sambutan hangat dari setiap mana tempat mereka manggung. Maklumlah, dengan apa adanya mereka menampilkan kebolehannya, sehingga hal itu menjadi ciri khas grup band Karo ini, terutama melodi-melodi gitar yang dimainkan oleh Jusuf Sitepu. Meskipun merasa berat anaknya berkarir di musik, ditambah karena sifat Jusuf dimata orang tuanya kurang disiplin, namun akhirnya orang tuanya membelikannya separangkat alat band. “Supaya dia tidak kecewa”, kata orang tuanya saat itu, karena sebagai anak bungsu Jusuf Sitepu cukup manja.

Kuta Pernampen merupakan tempat show perdana mereka dari alat band baru tersebut , yaitu pada tanggal 11 November 1968. Pernampen yang terletak di atas bukit dengan pemandangan cukup indah. Menurut intuisi Jusuf Sitepu beserta rekannya Riwanda Sebayang, tidak akan ada yang menandingi (selamanya di atas dan top). Personil The Giant Group saat itu adalah Jusuf Sitepu (Melodi sekaligus penyanyi), Akum Tarigan (Bass), Fransius Surbakti (Ritem), Metehsa Surbakti (Drum), Elia Rosa br Bangun dan Karolina br Purba (vokalis), Riwanda Sebayang (MC).

Sejak penampilan mereka di Pernampen, maka undangan untuk manggungpun terus berdatangan. “Tiada hari tanpa musik”’ demikian kata Jusuf Sitepu saat itu dimana perahtiannya kepada rekan-rekannya dirasakan cukup besar. Sehingga karismanya di dunia musik Karo semakin hari semakin besar. Lagu-lagu yang dibawakannya seperti Onggar-Onggar, Ole-Ole, Yogyakarta, Mahdalena, Sarudung Erdoah-doah, dan sebagainya cukup populer pada masyarakat Karo.
Jusuf Sitepu juga ikut ambil andil menempa regenerasi dalam dunia seni Karo. Setidaknya ia ikut menempa artis Karo lain seperti Ulina br Ginting, Bahagia Surbakti, Elia Rosa br Bangun, Ermawati br Karo, Rusti br Sembiring, dan juga anaknya sendiri Mery Susanna br Sitepu.

Jusuf Sitepu mengakhiri masa lajangnya dengan mempersunting Elia Rosa br Bangun pada tahun 1973. Dan pada tahun 1975 lahir putri mereka Mery Susanna br Sitepu. Namun badai menerpa kehidupan rumah tangga mereka berakhir pada tanggal 3 Maret 1978 di Pengadilan Negeri Kabanjahe. Tahun 1990 Jusuf Sitepu menikah lagi dengan Eliana br Ginting dan dikaruniai dua orang anak Angelia br Sitepu dan You Ananda Sitepu.

Karir Jusuf Sitepu tidak hanya mencipta dan melantunkan lagu-lagu Karo, tetapi tahun 90-an dia juga pernah ikut dalam pentas nasional dengan membawakan lagu-lagu dangdut di Jakarta. Pada tanggal 24 November 1997 dini hari, Jusuf Sitepu terserang stroke dan dibawa ke rumah sakit, namun jiwanya tidak tertolong lagi. Beliau pergi membawa damain menghadap Bapa di Sorga. Tiada lagi isak tangis dihatinya. Selorohnya masih membekas: “Andai aku nanti mati tak usah dikubur, biar anjing melolong memperebutkan tulang-belulangku, dan lalat menari-nari disekujur tubuhku, karena aku adalah manusia yang dilumuri dosa. Hanya pesanku kepada kawan seniman: Berbahagialah dengan ketiadaanmu! Jangan sesali alammu yang berkabut. Sesungguhnya penghibur dihatimu tak pernah terhibur dan tertidur. Selagi murai masih berkicau menyongsong sang mentari. Wahai Seniman ciptakanlah dia menjadi lagu, dan usah harapkan puja dan puji. Walau secuil.., engkau telah mempersembahkan apa adanya”. Kini Jusuf telah tiada, dan ada hasrat untuk memberikan sesuatu bagi Sang Legendaris Karo ini.

Selayaknyalah masyarakat Karo mengapresiasi beliau dalam berbagai bentuk, termasuk mendukung upaya pembangunan monumen/ makam Alm. Jusuf Sitepu yang akan dilakukan oleh panitia saat ini, yaitu Ir. Wisma Sinulingga (Ketua Umum), Arapenta Ginting (Sekretaris Umum), Mery Susanna br Sitepu (Bendahara Umum) dan dilengkapi dengan seksi-seksi. Dukungan itu bisa sifatnya moril, namun juga sangat berarti dukungan materil berupa dukungan dana untuk mewujudkan pembangunan monumen/ makam almarhum Jusuf Sitepu.

Jabatin Bangun (Panitia) bangun mengatakan “Jusuf Sitepu merupakan milik orang Karo, namun kondisi kuburannya saat ini menyedihkan di daerah Binjai, oleh sebab itu ada rencana membangun dan memindahkan kuburannya ke Batu Karang.” Lebih lanjut juga dikatakan bahwa dukungan warga Karo sangat diharapkan, mengingat dia juga banyak berbuat untuk Karo, khususnya kesenian Karo, kata salah Ketua Dewan Kesenian Jakarta dan Dosen Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta ini. Dana yang dibutuhkan untuk mewujudkan pembangunan monumen/ makam ini adalah Rp. 256 juta yang meliputi pembelian tanah, monumen dan patung, upah tukang, pagar dan instalasi listrik. Bagi masyarakat Karo yang merasa terpanggil untuk memberikan sumbangan dapat disampaikan ke Rekening Panitia, Mandiri Tasbi Medan. No. 105-00-0791575-8, an. Mery Susanna Sitepu.

sumber : http://xeanexiero.blogspot.com/2009/07/obituari.html

NB : lagu Yogyakarta dari Jusup Sitepu bisa didengarkan di http://lagu.karo.or.id/jusup-sitepu/yogyakarta/

Polisi Didesak Usut Penganiayaan Terhadap Penyanyi Karo

Aparat Polsek Medan Helvetia komitmen tetap menyelidiki kasus penganiayaan terhadap penyanyi papan atas Tanah Karo, Harto Tarigan,39, warga Jalan Tali Air, Kelurahan Mangga,Medan.

“Segala bentuk pengaduan masyarakat apalagi terkait tindak pidana pasti ditanggapi dan ditindak lanjuti. Begitu juga kasus penganiayaan yang dialami penyanyi asal Tanah Karo itu,”kata Kanit Reskrim Polsek Medan Helvetia Iptu Zulkifli.

Menurut dia, kasus tersebut dalam proses dan sejumlah saksi telah dimintai keterangan.
“Kita harus mengikuti prosedur hukum. Dengan cara melayangkan surat panggilan.Setelah itu maka pelakunya kita tindak sesuai hukum yang berlaku,”tegasnya.

Berbagai kalangan baik itu fans atau pun para seniman Karo berharap agar polisi menangkap pelaku penganiayaan, Tedo Lumban Tobing, penduduk di Jalan Seroja Raya Blok 14, Kelurahan Helvetia Tengah, Medan.

Seperti seniman kenamaan, Jasa Tarigan yang dikenal dengan pemusik tradisional, berharap agar pelaku segera ditangkap. “Saya berharap pelaku penganiayaan itu segera diringkus. Supaya tidak menyepelekan profesi seorang seniman,” tegas Jasa.

Egy Suranta Ginting, penyanyi yang saat ini digandrungi kaula muda, menyatakan bila pelaku ditangkap supaya ada efek jera dan tidak biasa melakukan main hakim sendiri.

Seperti diberitakan sebelumnya, Harto Tarigan, mendatangi Polsek Medan Helvetia, untuk membuat laporan pengaduan atas penganiayaan terhadap dirinya yang dilakukan oleh Tedo Lumban Tobing. (samosir/b) (poskota)

Jajang C Noer Belajar Budaya Batak dari Sang Pacar

Jajang C Noor

Jajang C Noor
Pemain film ‘Biola Tak Berdawai’, Jajang C Noer yang dalam waktu dekat bermain di Opera Batak, mengaku banyak belajar budaya Batak dari pacarnya. Pasalnya pacar dari Jajang C Noer yang tak diberitahu identitasnya, berdarah Karo. “Pasti saya akan bekerja dengan benar. Kebetulan pacar saya juga Batak. Dia tertampar kalau orang lain yang mempertunjukan budaya Batak lebih baik,” ujar Jajang C Noer, di Apartemen Beleza, Permata Hijau, Rabu (21/9/2011) malam.
Dalam memerankan sebuah tokoh, Jajang C Noer tak pernah terikat dengan sukunya, Padang. Selama mengangkat tema nasionalisme, Jajang C Noer bangga bisa bermain dalam setiap perhelatan. “Kita punya rasa nasionalisme kalau sadar akan akar kita, saya Padang saya bangga dengan kebangsaan saya, walaupun begitu saya lebih bangga saya orang Indonesia,” ungkap Jajang.
Rencananya Opera Batak akan digelar pada tanggal 12 Oktober 2011. Teater musikal yang membawa adat Batak itu akan digelar di Theater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. (tribunnews)

NB : Batak Karo diubah menjadi Karo

Lantai III LP3M Terbakar

Jalan Veteran sekitar kawasan eks Bioskop Ria Berastagi, spontan ramai di datangi warga, Rabu (21/9) sekitar pukul 11.00 WIB. Pasalnya, lantai tiga gedung LP3M Berastagi terbakar.

Kepanikan segera melanda sejumlah penghuni rumah toko (ruko,red) yang berdekatan dengan rumah yang digunakan untuk tempat kursus komputer, bahasa inggris, dan sekaligus usaha warnet itu.

Termasuk pengunjung dan karyawan tiga Bank (Sumut, BNI, BNI), yang berada satu deretan dengan ruko yang terbakar. Dalam perjalanan regu pemadam kebakaran menuju lokasi, sekelompok massa dan security Bank Sumut mencoba menjinakan kobaran api. Si jago merah yang belum membesar namun sempat melahap langit-langit serta sebahagian isi gudang lantai III LP3M Berastagi, beberapa menit kemudian akhirnya dapat di padamkan.

“Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Kerugian belum dapat dipastikan karena korban belum melakukan penghitungan. Untuk sementara asal api diduga dari hubungan singkat arus listrik (korsleting),” ujar Kasat Reskrim Polres Tanah Karo AKP Harry Azhar dilokasi kejadian. (wan)(sumutpos)

Pungli Marak Dilintasan Tiga Nderket

Kerusakan ruas jalan Tiga Nderket, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, semakin parah ditambah pungutan liar (pungli) yang marak dirasakan awak dan sopir truk pengangkut batu dolomite.

Bukan hanya melibatkan oknum petugas dinas Pemda terkait saja, namun juga melibatkan preman. Keresahan ini dialami sopir truk, yang melintasi jalan Tiga Nderket. Pungli dilakukan terkoordinir.

Seperti diungkap Herman Simamora, salah seorang supir truk pengangkut batu dolomite, keberadaan itu sangat meresahkan masyarakat melintasi kawasan tersebut.
“Sudah membayar uang cas Rp15 ribu di lokasi galian C Desa Kuta Buluh dan uang koperasi Rp390 ribu di Desa Susuk, ditambah lagi uang keamanan Rp35 ribu,” kata Herman, tadi malam.
Kemudian uang melintas Rp5 ribu di Desa Payung. Lalu, restribusi untuk Pemda Rp10 ribu di Desa Simpang Empat, restribusi untuk Dishub Provinsi Rp50 ribu di Jembatan Timbang Sibolangit, dan uang bongkar muat Rp80 ribu di Kecamatan Sunggal, Kota Medan.

Lanjutnya lagi, para sopir truk tidak bisa berbuat banyak akibatnya pendapatan kian merosot karena dipungli lebih besar dari sebelumnya. Para sopir yang tidak mau ambil resiko terpaksa mengikuti semua aturan main di jalan raya dan jembatan timbang.

“Kami berharap agar pelaku yang tidak bertanggung jawab itu bisa ditertibkan oleh penegak hukum,” ujarnya.

Menanggapi pungli yang semangkin marak itu, Ketua DPD Generasi Muda Peduli Tanah Air (GEMPITA) Kabupaten Karo, Robinson Purba, menyurati pihak bertanggungjawab agar pungli di wilayah hukum Polres Tanah Karo disikapi dengan tegas.

Menurut Robinson, dugaan pungli dipastikan bekerjasama dengan dinas terkait jajaran Pemda dengan cara menghadang semua kendaraan. Berbagai cara dilakukan, seperti memberikan karcis atau kupon saat truk melintas. Selain itu, oknum-oknum itu tidak cuma menunggu di tiap pos, melainkan mengejar setiap truk yang tidak mau membayar. (waspada)