Jaipongan dan Lagu Karo Hibur Warga Medan

lagu piso surit

lagu piso surit
MEMPERINGATI Hari Sumpah Pemuda yang berlangsung hari ini, Jumat, 28/10, mahasiswa Universitas Negeri Medan (UNIMED) menggelar berbagai aksi kesenian serta karnaval kebudayaan, dengan tema “Nusantara Menyidik”.

Dalam gelaran tersebut, ribuan mahasiswa bergerak turun ke jalan, alat musik tradisional ditabuh dengan begitu kuat. Sambil mengucapkan butir-butir Sumpah Pemuda, generasi penerus bangsa ini memadati Jalan Wiliem Iskandar, Medan.

Setelah dengan lantang mengucapkan Sumpah Pemuda, pecahlah suara tepuk tangan oleh warga yang dilintasi rombongan ini.

Kejutan demi kejutan dilakukan dalam peringatan Sumpah Pemuda ini. Seorang mahasiswa tiba-tiba menarik tangan pengunjung yang tengah asyik menyaksikan kegiatan. Tiba-tiba musik Jaipongan diputar, dan keduanyapun berjoget bak sinden.

Setelah itu, seorang wanita yang memarkirkan kendaraannya di dekat lokasi kegiatan, juga menjadi sasaran mahasiswa dan pemuda ini. Musikpun diputar. Lagu Karo dimainkan, nyanyian Pisau Surit terdengar merdu. Sedikit malu, sang wanita itupun berbaur bersama ribuan orang sambil menari. Lagu Lancang Kuning tak ketinggalan dimainkan oleh para mahasiswa, membuat suasana semakin meriah.(jurnas)

Kedai Kopi dan Televisi

Pulumun P. Ginting, M.Sn.

Oh…Turang

Oh…mbiring Manggisku

Mbiring-Mbiring

Seh Kal Jilena

(Mbiring Manggis – Tumtam)

Sepenggal lirik lagu pop Karo yang sangat populer dan bahkan tidak seorangpun di Karo tidak mengenal jalinan nadanya. Saya terduduk di salah satu kedai kopi dan tidak seorangpun yang tidak mengenal kata globalisasi. Kepopuleran globalisasi mendesak masuk dalam kedai kopi, seperti nada-nada Mbiring Manggis. Saat ini, Karo telah menjadi bagian dari masyarakat global dan bahkan tidak menutup kemungkinan nada-nada globalisasi menjelajah, hingga sudut yang tak terlihat di Karo.

Hadirnya televisi di kedai kopi menjadi tak hanya hiburan, tetapi juga ikut menggerus ingatan akan jalinan nada-nada indah dari pop Karo. Disinilah, di kedai kopi inilah, kedai kopi dan televisi menjadi gambaran pertempuran globalisasi dan tradisi.

Sentuhan budaya global dan budaya lokal telah menjadi persoalan kita saat ini. Saya sebagai seorang seniman musik memahami, ada kebutuhan dari tradisionalitas untuk bersaing dalam kompetisi pasar musik populer saat ini. Mike Featherstone mengatakan, ketika budaya lokal terintegrasi dengan budaya global, dia turut terintegrasi ke dalam struktur yang lebih bersifat impersonal. Di dalamnya pengaturan pasar atau administrasi dijaga oleh elit-elit nasional atau para profesional dan ahli lintas budaya yang mempunyai kapasitas untuk mengenyampingkan proses pengambilan keputusan lokal dan menentukan nasib lokalitas. Kondisi ini menggiring kita untuk secara jelas memahami, globalisasi akhirnya membuat masyarakat lokal yang tadinya komunal menjadi individual.

Dari segi musik, dulu musik-musik Karo dikenal sebagai bagian dari musik seluruh masyarakat Karo. Ketika kita bicara tentang musik pop Karo, kita akan bicara tentang siapa pencipta, terutama penyanyinya. Seperti inilah gambaran globalisasi. Kita tidak lagi duduk dalam kedai kopi untuk bicara tradisi, tetapi aksi-aksi televisilah yang menjadi pusat narasi. Televisi bukanlah setumpuk benda mati, di dalamnya terdapat ideologi globalisasi yang menyiarkan individuasi. Pengaruh globalisasi yang menghantam tradisi akhirnya memaksa kita untuk lebih sering berbincang tentang ekonomi. Musik pop Karo pun hanya menjadi “kertas dinding” tanpa isi tradisi, karena dihantam oleh televisi yang menjadi bagian dari globalisasi, ekonomi dan individuasi.

Jean Baudrillard (1990) mengatakan, anda adalah layar dan televisi sedang menonton anda. Bahkan Idi Subandy Ibrahim menganggap televisi adalah contoh mesin konstruksi citra dipanggung selebriti. Dia memungkinkan semua ranah kehidupan dan budaya, menjadi produk tontonan di dalam masyarakat, tidak terkecuali kematian, terutama kematian selebriti.

Baru-baru ini masyarakat Karo telah terbius oleh berita dari Inggris yang didapatnya dalam televisi. Kedai kopi belum lagi sempat untuk mengingat tradisi sendiri karena ruang-ruangnya diisi oleh kemewahan dan glamornya prosesi pernikahan kerajaan Inggris yang dikemas bak selebriti.

Pernyataan dari Baudrillard sangat mungkin terjadi di masyarakat kita. “Televisi sedang menonton anda”, dalam hal ini kita bisa menjadi yang asing ketika kita tidak berbicara apa yang ada di televisi tadi. Seseorang dapat dianggap tidak mengikuti zaman ketika tidak menonton televisi, sepeda motor baru bisa jadi kuno, hp canggih bisa jadi bahan diskusi, Julia Perez bisa jadi teman catur dan perkembangan politik yang mutakhir menjadi akhir dari buah bibir. Siapa lagi tidak bicara televisi di kedai kopi kini?

“Ula rusursa ndedah nakku!!!”. Masyarakat Karo sebenarnya telah memahami, televisi mengganggu aktivitas keseharian putra-putrinya dalam belajar. Televisi memiliki kekuatan lebih besar dari itu. Lebih telanjang dari yang telanjang, lebih cantik dari yang cantik, lebih merdu dari yang merdu dan lebih terkenal daripada yang terkenal. Jadi, bagaimana televisi kemudian menjadi bagian dari kedai kopi? Masalah atau hiburan?

Tanpa televisi tidak ada kedai kopi. Saya hanya membayangkan seandainya saya tidak mengikuti trend dari televisi, gaya hidup dari televisi dan apa yang benar menurut televisi, siapakah saya di kedai kopi? Saya tidak tahu juara dunia dalam piala dunia 2010 lalu, kawan saya bilang Spanyol. Apa yang dia bayangkan tentang saya? Saya seorang seniman musik dan saya tak perduli sepakbola, tetap saja mereka bicara Briptu Norman dengan musiknya yang begitu terkenal kini. Apakah saya bukan lagi seorang seniman musik yang tidak paham musik karena tidak menonton televisi? Siapa kita di kedai kopi seandainya televisi itu mati?

Televisi dan kedai kopi. Terbayang emosi yang sama digiring oleh televisi ketika Spanyol jadi juara dunia, caya-caya didendangkan oleh pedangdut dari kepolisisan negeri ini dan layaknya ketika kita bersama dalam irama Mbiring Manggis.

Inilah desa global yang diutarakan Marshall McLuhan, kecenderungan yang pesat dari media cetak, hingga media elektronik berkembang menyatukan budaya-budaya dunia. Tidak hanya masyarakat Karo yang merasakan Spanyol menjadi juara dunia, tidak hanya masyrakat Karo yang terlena dengan irama caya-caya. Apakah masih ada kekaroan yang tersisa, ketika kita menjadi bagian dari desa global?

Disinilah keunikan yang masih tersisa ketika berbicara Karo, kedai kopi dan tradisinya. Masih ada kekerabatan yang dapat menjadi filter dari kuatnya arus globalisasi. Seperti halnya bangsa lain di dunia, masyarakat Karo juga mempertahankan sistem kehidupan keluarga dengan membuat nama keluarga. Nama keluarga dipertahankan dengan cara mencantumkannya di belakang nama. Nama keluarga ini disebut merga (untuk laki-laki) dan beru (untuk perempuan), yang diwarisi secara turun-temurun berdasarkan patrilineal (garis keturunan berdasarkan ayah), tapi masyarakat Karo juga tidak mengabaikan garis keturunan Ibu.

Sistem kekerabatan masyarakat Karo mau tidak mau harus memahami tentang sangkep nggeluh (kinship) pada merga silima, karena dalam setiap pelaksanaan adat istiadat yang berperan adalah sangkep nggeluh. Pusat dari Sangkep nggeluh adalah sukut, yaitu pribadi atau keluarga/merga tertentu yang dikelilingi oleh senina, anak beru dan kalimbubu-nya.

Dalam melaksanakan upacara adat tertentu seperti perkawinan, kematian, memasuki rumah baru dan lain-lain, sangkap nggeluh akan diketahui apabila sudah jelas siapa sukut dalam acara itu. Misalnya dalam perkawinan, sukut adalah orang yang kawin beserta orang tuanya, dalam acara adat kematian sukut adalah janda atau duda dan anak dari yang meninggal (keluarga dari orang yang meninggal). Atau dalam acara memasuki rumah baru (mengket rumah) sukut adalah pemilik rumah baru.

Terkait dengan patrilineal, kedai kopi menjadi ajang dari pertemuan putra-putra Karo. Pernah dalam suatu perbincangan kedai kopi, seseorang dapat duduk lama karena pewrtemuannya dengan seorang kerabat yang masih semarga. Mereka bercakap tentang apa dan siapa mereka. Kedai kopi menjadi tempat bertemunya cerita atas apa-apa yang telah dilalui. Dia menjadi arena kabar kelahiran, cerita pernikahan dan berita kematian. Lebih dari sekedar kumpul-kumpul, main-main dan senda gurau. Bahkan dirinya adalah sebentuk universitas non-formal bagi masyarakat Karo.

“Pindo tehndu ma …”

“Pindo tehndu pa …”

“Pindo tehndu mpal …”

“Pindo tehndu silih …”

“Pindo tehndu kila …”

Sapaan ini tidak membedakan siapapun yang datang ke kedai kopi, baik kelas, jabatan dan apapun perannya di masyarakat. Disinilah kekuatan kekerabatan Karo dapat terlihat. Seorang profesor bisa berbicara sebagai Sembiring, seorang petani bisa berbicara sebagai Ginting, seorang seniman bisa berbicara sebagai Tarigan, seorang anggota dewan yang terhormat bisa berbicara sebagai Perangin-angin dan bahkan seharusnya seorang bupati bisa bicara sebagai Karo-karo.

Apakah karena televisi kita kemudian membedakan mereka dalam perannya? Bagaimanakah seharusnya kita memandang mereka dalam era globalisasi? Bukankah mereka seharusnya tetap sama di kedai kopi. Nyatanya kedai kopi telah menjadi arena baru bagi pergumulan kepentingan akan kuasa. Kampanye politik seakan menjadi penting dari pada silaturahmi dan “minum kopi”.

Kedai kopi saat ini tidak hanya ruang 6 x 8 meter, meja-kursi, sekumpulan roti kering, kaleng susu dan tumpukan gelas-gelas. Salah satu anak ajaib industrialisasi yang ada di kedai kopi adalah televisi, bahkan menurut Idi Subandi Ibrahim, televisi sebuah kotak ajaib yang ditempatkan secara khusus. Disanalah satu ruang keseharian kita. Da merupakan hasil produk kemajuan teknologi yang paling banyak memperoleh “gelar kehormatan”, seperti “jendela dunia”, “kotak dungu” dan yang pada gilirannya telah membentuk “pseudo environment” atau lingkungan semu. Hal ini berarti kita tidak berhadapan dengan informasi ansich tetapi merupakan kebudayaan yang telah dipaketkan, baik tentang gaya hidup, realitas kelas-kelas sosial dan nilai-nilai global. Bagaimana kita akan mempertahankan tradisi ketika televisi menjadi santapan sehari-hari?

Pada akhirnya, Mbiring manggis kembali membawa saya pada romantisme klasik akan indahnya tradisi. Jalinan nadanya menggiring saya untuk memaknai pergumulan globalisasi dan tradisi. Kedai kopi, ruang-ruang bagi kelokalan dan televisi ialah seperangkat media global. Dalam pandangan saya, kedai kopi mampu menjadi ruang bagi harmoni akan perbedaan yang didapat dari kekerabatan lokal dan budaya global yang disemai melalui televisi. Karena bagi saya seharusnya yang ada adalah “Televisi dalam Kedai Kopi, bukan Kedai Kopi dalam Televisi”.

sumber