Taman Alam Lumbini Ramai Dikunjungi Saat Liburan

Berastagi, Sumut, 25/12 (ANTARA) – Objek wisata Taman Alam Lumbini di Desa Tongkoh, Kecamatan Dolatrayat, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, kian ramai dikunjungi wisatawan, terutama saat musim libur.

Di sana pengunjung antara lain dapat menyaksikan kemegahan bangunan pagoda emas yang merupakan replika dari Pagoda Shwedagon Myanmar.

“Biasanya setiap hari libur, pengunjung selalu memadati replika Pagoda tertinggi di Indonesia yang berjarak sekitar 55 kilometer dari kota Medan tersebut,” kata Jhoni, seorang Staf Pengelola Taman Alam Lumbini di Tongkoh, Selasa.

Menurut dia, sejak resmi dibuka untuk umum pada Oktober 2010, cukup banyak wisatawan lokal yang berkunjung ke taman seluas tiga hektar itu, guna melihat secara langsung bangunan replika Pagoda Shwedagon yang merupakan replika tertinggi kedua di antara replika sejenis yang berada di Birma.

Dikatakannya, banyak wisatawan non-Buddhis yang berasal dari berbagai daerah datang ke lokasi yang berjarak sekitar delapan kilometer dari kota Berastagi tersebut, untuk sekedar berfoto, sedangkan penganut Buddha memanfaatkan waktunya sekalian untuk melakukan sembahyang.

Objek wisata tersebut, kata dia, menjadi tempat favorit para photographer, karena keindahan arsitektur Pagoda, memberikan nuansa tersendiri, seolah-olah sedang berada di luar negeri.

Bahkan, kata dia, replika dimaksud pernah dicatatkan hingga mendapat rekor MURI untuk kategori stupa tertinggi di Indonesia, serta termasuk sebagai replika tertinggi nomor dua di Asia Tenggara.

Dalam Pagoda tersebut terdapat empat rupang Buddha berukuran sedang pada bagian tengah yang menghadap ke empat sisi ruangan, dan pada bagian tengahnya dijadikan sebagai arena bagi pengunjung yang hendak bersembahyang.

Jhony menjelaskan, dalam pagoda itu tersimpan sebanyak 2.958 rupang Buddha, 30 rupang Arahat dan 108 relik suci serta hampir seluruhnya dibawa langsung dari Myanmar, termasuk puncak pagoda setinggi 46,8 meter di atas stupa.

Selain itu, juga terdapat taman-taman bunga serta berbagai jenis pohon langka di sekitar jurang di bawah pagoda emas serta arena bermain anak-anak, sehingga pengunjung bisa menikmati suasana rekreasi alam yang sehat lewat berbagai alat olah raga kebugaran yang tersedia.

Sementara itu, Yosie Fatimah (22), salah seorang pengunjung Taman tersebut menyebutkan, dirinya sangat terkesan dengan kemegahan Pagoda dimaksud, dan tidak perlu lagi pergi jauh ke Myanmar, jika ingin melihat Shwedagon.

Dikatakannya, secara sengaja bersama keluarganya, mereka ingin menyaksikan langsung kemegahan replika Pagoda Shwedagon di Taman Alam dengan udara nyaman yang sejuk dari kaki gunung Sibayak di Kabupaten Karo tersebut.

Untuk memasuki pagoda, kata dia, tidak dipungut biaya, tapi harus mematuhi peraturan tertentu serta melepaskan alas kaki, dan tidak boleh memotret menggunakan blitz, tidak diizinkan makan dan minum di dalam areal tersebut
“Rasanya seperti sedang berada di Myanmar saja, saat menyaksikan pagoda berwarna kuning emas yang berdiri dengan megah dengan kebun-kebun bunga dan sayuran sepanjang kiri kanan jalan,” kata Yosie.

Dinginnya Sungai Sembahe Sibolangit

sembahe sibolangit

sembahe sibolangit
Sungai Sembahe Sibolangit adalah wisata tempat pemandian yang sering dikunjugi oleh para wisata lokal. Air sungai Sibolangit ini mengalir dengan deras karena di sekitar air terdapat batu-batu besar, dan dibatu inianda bisa berfoto bareng dengan teman sambil menikmati dinginnya air sungai tersebut. Pada saat liburan sekolah (tanggal 17 Agustus-an, tempat ini sangat ramai dikunjugi. Selain airnya dingin, suasananya juga sangat nyaman dan udaranya masih asri, dingin serta bisa menikmati makanan hangat yang tersedia dijual di tempat itu.Dengan biaya masuk Rp 8.000, setiap pengunjung bisa menikmati lokasi wisata ini dan merasakan dinginnya air pegunungan.
Anda penasaran dengan air pengunungan ini, silakan berkunjung. Lokasi tempatnya di Tanah Karo, yang bisa kita mulai perjalanan dari Medan. Dengan Transportasi umum yang tersedia disimpang kualaMedanyaitu Sumatera Utara (Sutra), Borneo, Sinabung dan lain-lain. Atau dengan kendaraan sendiri yang bisa ditempuh dengan waktu lebih kurang 1 jam dari Medan (griyawisata)

Bertarung ke Puncak Petarung

mendaki gunung sinabung

mendaki gunung sinabung
“Awas batuuuuu…,” teriakan keras itu memecah malam sunyi. Dengan bantuan sinar senter, mata liar mencari arah jatuhan batu. Badan bergeser ke tubir tebing, sementara tangan erat mencengkeram akar pepohonan.

Tiba-tiba terdengar suara tak kalah keras, “Aduuuh.” Salah seorang porter, yang berada beberapa langkah di depan, rupanya terlambat menghindar. Tangannya terbentur batuan longsor. Untung hanya terluka kecil.

Walau “hanya” berketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut, pendakian ke Sinabung tidaklah mudah. Batuan rapuh, cadas licin berselimut lumut, dan tanjakan berkemiringan 75 derajat menemani perjalanan, 26 Juli lalu. Demi mengejar matahari terbit di puncak, perjalanan malam pun ditempuh.

Lau Kawar

Sehari sebelum pendakian, Puncak Sinabung diselimuti asap tebal. Digolongkan sebagai gunung api Tipe B—karena tak aktif sejak tahun 1600—Sinabung tiba-tiba meletus, 29 Agustus 2010. Letusan itu menaikkan status Sinabung menjadi Tipe A dan dipantau intensif.

Letusan itu juga menumbuhsuburkan ritual terkait gunung. Jejak ritual berupa sesaji terlihat di sepanjang jalur pendakian, biasanya berupa jeruk peras, daun sirih, dan rokok.

Pendakian diawali dari Danau Lau Kawar. Danau seluas 200 hektar yang siang hari begitu indah berubah misterius pukul 00.30. Pikiran pun melayang pada legenda danau tersebut.

Konon, sebelum jadi danau, Lau Kawar merupakan lahan pertanian. Hiduplah satu keluarga petani. Silih berganti anggota keluarga menunggu ladang, hingga siang itu tiba giliran sang nenek. Sebagaimana biasa, cucunya, Kawar, mengantarkan makanan.

Namun, dalam perjalanan, Kawar kelaparan. Tanpa pikir panjang disantapnya jatah nenek hingga tersisa tulang. Nenek kecewa ketika menemukan bekalnya tanpa lauk-pauk lagi.

Sambil menangis, ia berkata, “Daging pun aku sulit mengunyah, kenapa cucuku tega memberi tulang. Seakan aku tidak berguna lagi di dunia.”

Seketika itu juga hujan lebat turun, disertai petir. Banjir melanda, menenggelamkan Kawar, nenek, dan lahan pertanian sehingga terbentuklah danau yang dinamakan Lau Kawar.

Moral cerita ini barangkali untuk mengingatkan agar menghormati orang tua dan jangan serakah. Namun, di baliknya ada upaya merekonstruksi penciptaan danau. Antropolog dari Universitas Pittsburgh, Pamela J Stewart dan Andrew Strathern, dalam Landscape, Memory and History: Anthropological Perspectives (2003) menyebutkan, formasi alam yang unik, seperti gunung, danau, dan sumber air panas, kerap dikeramatkan. Pantangan dibuat demi menghormati ruang sakral itu.

“Saat mendaki Sinabung, tak boleh berpikir dan berucap kotor, membakar babi atau anjing, karena akan mendatangkan bencana,” kata Sidarta, pemandu pendakian.

Bagi orang Karo, Sinabung bukan sekadar gunung. Dia juga ruang spiritual, yang jejaknya terekam dari sejumlah sesajen di jalur pendakian. Antropolog dari Universitas Sumatera Utara, Sri Alem Sembiring, mengatakan, orang Karo percaya tendi yang mengisi alam semesta. Ritual dilakukan jika terjadi ketidakseimbangan antara tubuh dan tendi. Keseimbangan alam terganggu jika inti kehidupan, seperti tanah, air, dan udara, terusik. Ritual berfungsi menjaga keseimbangan makrokosmos agar tidak terjadi bencana.

Sang petarung

Bertolak dari tepi danau itu, kami mendaki ke puncak. Tidak banyak yang dilihat lantaran gelap. Satu jam mendaki, pepohonan lebat dengan akar menghalangi digantikan bebatuan cadas yang terbentuk dari lelehan lava. Jalan semakin terjal.

Batu-batuan longgar dengan mudah tercongkel dan gugur. Sebelum berangkat, petugas pos pemantauan Sinabung, Armen Putra, mengatakan, aktivitas Sinabung stabil dan aman didaki. Hanya saja, pendaki harus berhati-hati dengan kemungkinan runtuhan batu. Sinabung memang tak bisa diremehkan. Selain jalan terjal, bebatuannya pun rapuh dan mudah longsor.

Tak heran, Sinabung disebut “gunung petarung”. “Ada kepercayaan, jika mau sukses dalam hidup, dakilah Sinabung,” ujar Ita Sembiring, budayawan Karo.

Tiga setengah jam mendaki, kami tiba di area lapang, hanya 10 meter dari puncak. Hari masih gelap. Kami tiba satu jam lebih awal dari jadwal. Kabut tebal turun. Angin menderu kencang, membawa gigil dingin. Kami menunggu di tanah lapang itu, menggelar mantel dan membungkus tubuh dengan pakaian tebal yang dibawa.

Pukul 05.30, langit tetap gelap. Setengah jam berlalu, suasana tak berubah. Kami memutuskan menuju puncak. Berdiri di Puncak Sinabung, seperti tegak di atas awan. Matahari nyaris tak terlihat, bersembunyi di balik kabut. Kami bertahan, menunggu alam bermurah hati membuka diri.

Hanya sekelebatan kabut menyingsing. Tak cukup memberi waktu untuk mengabadikan panorama menawan.

Sinabung memberi kami pelajaran penting, gunung ini sulit diduga dan tak boleh diremehkan. *kompas

Infrastruktur Kendala Utama Pariwisata Sumut

pariwisata sumut

pariwisata sumut
Pariwisata di Sumatera Utara (Sumut) selama ini kita lihat mempunyai potensi besar menjadi destinasi wisata para turis asing maupun lokal di Indonesia. Beberapa tujuan wisata yang menjadi primadona di Sumut antara lain seperti Danau Toba, Taman Nasional Gunung Leuser, Berastagi, Tangkahan, Air terjun Sipiso-piso maupun air terjun Sigura-gura, dan daerah wisata lainnya.

Jika daerah ini dikemas dengan baik, tentunya Sumut tidak kalah dengan daerah lain seperti Bali, Lombok, dalam hal pariwisata. Namun, yang menjadi masalah pariwisata di Sumut ini ialah masalah infrastruktur, seperti jalan menuju tujuan wisata, listrik, telekomunikasi, maupun fasilitas-fasilitas lainnya di daerah wisata. Tentu hal ini menghambat Sumut dalam mengembangkan potensi wisatanya dan dapat menyebabkan para turis asing maupun lokal enggan untuk berkunjung.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) Provinsi Sumatera Utara, Parlindungan Purba mengatakan, masalah utama kita adalah terletak pada infrastruktur jalan, listrik, telekomunikasi, dan fasilitas lainnya. Dirinya juga menyarankan agar adanya badan otorita yang berfungsi sebgai koordinator program.

Namun, tambah Parlindungan, wewenang yang dimiliki kabupaten kota, maupun provinsi harus dapat memainkan peran besar dalam memajukan sebagai konduktor. Selain itu, dia juga mengkritik Kementerian Pariwisata yang kurang peduli dengan tempat-tempat wisata di Sumut, salah satu yang kurang diperhatikan adalah primadona wisata Sumut, Danau Toba.

“Menteri Pariwisata terkesan kurang peduli dengan Danau Toba. Dan semua anggota DPR dan DPD bersama Gubernur Sumut dan Kepala Daerah akan membentuk Sumut Incorporated termasuk dibidang pariwisata,” ujarnya melalui pesan singkat kepada Waspada Online, hari ini.

Hal senada juga diungkapkan anggota DPRD Sumut, Brilian Moktar. Berdasarkan kenyataan di lapangan, hampir seluruh infrastruktur menuju daerah wisata di Sumut baik untuk tingkat nasional maupun daerah wisata tujuan wisata lokal tidak ada yang beres. Padahal kenyamanan menuju daerah tujuan wisata menjadi salah satu ukuran bagi wisatawan, apalagi wisatawan luar karena kenyamanan infrastruktur menjadi salah satu jaminan keamanan di jalan raya.

“Untuk itu, para stake holder harus secara bersama-sama memikirkan masalah itu untuk menarik minat wisatawan ke lokasi wisata Sumut,” ujarnya. (waspada online)

Deleng Kutu, Hati-hati dengan Cabai Rawit

Anda mungkin pernah mendengar hewan kecil yang gatal bernama kutu. Nama binatang penghisap darah ini rupanya menjadi salah satu nama gunung di Tanah Karo, Sumatera Utara. Persisnya di Desa Guru Singa, Kecamatan Berastagi, Gunung Kutu tidak kalah uniknya dengan sejumlah gunung populer lainnya yang berada di Tanah Karo.

Padahal gunung ini tidak setinggi Sibayak dan Sinabung, namun panorama alam yang dimilikinya cukup mempesona. Deleng Kutu, demikian masyarakat lokal menyebut gunung yang memiliki ketinggian sekitar 1.300 mpdl ini. Dilihat dari kejauhan, deleng (gunung dalam bahasa Karo) itu memang mirip kutu. Mungkin itulah sebabnya masyarakat sekitar menyebutnya Gunung Kutu.

Dalam pendakian gunung yang memiliki tantangan tersendiri ini, aku bersama Esra Surbakti, Rian Ginting dan Jhon Ginting mengawali perjalanan dari sebuah desa di sekitar kaki gunung, Desa Lingga Julu. Perjalanan yang dimulai sejak sore hari itu dibayang-bayangi mendung dan kabut. Setelah beberapa puluh menit berjalan selepas Desa Lingga Julu, kami sudah menyaksikan permukaan Gunung Kutu. “Memang mirip kutu ya?” celetuk Rian sambil menunjuk ke sebuah gundukan hijau kebiruan yang masih terlihat kerdil di hadapan kami.

Sejenak kami berhenti memandangi gunung imut itu. Sembari mengabadikan gunung, beberapa teman melototi kerumunan sapi yang sedang melahap rumput. Mungkin mereka jarang menemukan suasana seperti ini di kota, pikirku. Perjalanan dilanjutkan ke Desa Guru Singa. Di jantung kampung ini, terdapat sebuah rumah adat Karo yang kondisinya cukup memprihatinkan. Kami berupaya masuk ke rumah siwaluh jabu (delapan keluarga) itu melalui jendela yang hampir ambruk. Kondisi dalam rumah adat yang dulu dihuni delapan keluarga ini kayak kapal pecah. Di sana-sini terlihat onggokan pakaian dan barang bekas yang sudah kumuh. Menurut salah seorang warga, sejak sepuluh tahun silam rumah peninggalan nenek moyang orang Karo tersebut memang sudah kosong lantaran keluarga yang dulu menghuninya sudah pindah.

Sejak itu, tidak ada upaya Pemkab Karo mengkonservasi bangunan tradisional ini sebagai salah satu situs pariwisata yang tidak ternilai harganya. Pintu Rimba. Puas menyaksikan kehancuran siwaluh jabu, perjalanan dilanjutkan ke pintu rimba. Tapi gerimis sudah mendahului kami sebelum sampai di pintu masuk itu. Di sinilah kami ditantang memanjat betis gunung setinggi 2,5 meter. Berhasil melewati tantangan ini dengan bantuan akar pohon, kami menemukan jalur yang cukup menantang pula. Jalur pendakian ke Gunung Kutu memiliki medan yang lumayan sulit.

Betul kata sesepuh pendaki gunung, semua gunung itu unik dan memiliki medan yang tantangannya berbeda. “Jadi jangan pernah menganggap remeh sebuah petualangan,” itu pesan yang kuterima. Teman-temanku rupanya terkecoh dan masing-masing mulai memberikan penilaian baru terhadap misi pendakian ini. Sebelumnya ada kesan sepele dari mereka. “Tadi kita kira gampang, rupanya jalurnya bikin sesak napas juga ya?” kata seorang teman dengan napas memburu. Hampir mencapai puncak, kami tertipu lagi. Rupanya sebuah ketinggian yang kami temukan adalah “puncak palsu”. Meski gunung ini terlihat kecil, tapi kecil-kecil cabai rawit juga.

Di puncak tipuan itu, kami hampir tersesat. Untunglah seorang teman buru-buru menemukan jalur yang mengarah ke kanan dan menuju puncak yang sesungguhnya. Lima menit menyusuri jalan tersebut, kami menemukan sebuah pilar yang konon didirikan oleh Belanda. Berada di puncak Gunung Kutu seperti berada di taman. Terasa asyik karena puncaknya dilengkapi tempat duduk yang terbuat dari batu. Pilar dikelilingi tempat duduk batu dan terdapat lokasi untuk mendirikan tenda. Selain itu kami menemukan sisa-sisa ranting terbakar yang berserakan. Mungkin baru saja ada orang yang membuat api unggun, pikirku. Setelah puas beristirahat di puncak, kami menembus padang ilalang setinggi 2 meter.

Dari sana terdapat satu tempat yang cozy untuk nongkrong. Dari ketinggian itu, Kota Kabanjahe tampak berkilat-kilat di bawah. Juga terlihat permukaan Gunung Sibayak dan Sinabung, dua ikon Tanah Karo yang sudah melegenda hingga mancanegara. Sempat Terpelanting Di puncak, senja menggairahkan alam. Burung-burung tidak berhenti berkicau. Angin senja terasa lembut menyapu kulit. Kami betah berada di sini. Alam akrab menyapa dan menjadi saksi bisu sebuah persahabatan. Di gunung inilah kami abadikan persahabatan itu.

Damai di sana, sedamai alam bila hutan dan ekosistemnya dilestarikan. Sangat disayangkan, sebagian tubuh gunung mulai ditanami penduduk. Hampir satu jam di puncak, kami kembali menuruni lereng Gunung Kutu. Karena jalannya licin, beberapa kali kami jatuh terpelanting. Tapi berkat bantuan akar-akar pohon yang tersebar di sepanjang jalur, pendakian berhasil diakhiri sekitar pukul 19.00 WIB tanpa ada yang cedera. Dari pintu rimba, rombongan kecil ini menyusuri jalan pedesaan ke Simpang Korpri selama hampir 1 jam. Simpang ini berada di Jalan Jamin Ginting yang menghubungkan Kota Kabanjahe-Berastagi. Dari sana kami menuju Kota Berastagi dan menikmati jajanan malam di kota pariwisata itu. Bagiku, ini sebuah perjalanan penuh kenangan. Tidak akan bisa kami lupakan. (insidesumara)

Gemuruh Cinta di Puncak Sibayak

Ada dua jenis cinta yang selalu tumbuh di puncak Sibayak. Yang satu adalah cinta yang mekar di hati pasangan-pasangan muda yang mendakinya. Yang kedua, cinta yang tumbuh pada Sang Maha Pencipta segala keindahan yang terhampar di segala arah pegunungan dan lembah. Bagi Kabupaten Karo, di Sumatera Utara (Sumut), Gunung Sibayak bisa dikatakan sebagai mata kalung semua kegiatan wisata. Menjadi pengait bagi sebagian besar objek wisata yang ada di kabupaten itu. Pemandian air panas, udara sejuk, kegiatan pertanian dan panorama di puncak gunung.

Ada empat jalur yang dapat ditempuh untuk mencapai Sibayak. Jalur pertama melalui Bumi Perkemahan Sibolangit di Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang. Jalur ini membutuhkan waktu tempuh sekitar 15 jam paling cepat. Medannya lumayan berat. Jurang-jurang akan sering ditemui dan tanjakan-tanjakan curam. Sementara longsoran tanah kerap terjadi. Jalur ini tercatat sering menelan korban jiwa. Informasi lain yang terdengar dangerously beautiful adalah kawasan Sibayak sebagai kuburan pesawat. Karena beratnya medan lintasan serta jarak tempuh yang lama, maka hanya sedikit saja yang melalui jalur ini. Dalam setahun, paling hanya dua atau tiga tim pendaki yang menantang kekejaman khas alam di sana. Meski sangat kejam, namun justru pemandangan terbaik ada di lintasan ini. Para pendaki survival sangat menyenangi pendakian Sibayak dari Sibolangit.

Tumbuhan survival yang dapat dimakan dalam keadaan darurat, banyak dijumpai di jalur sulit ini. Sebutlah misalnya asparagus, rambutan hutan, maupun rotan-rotanan. Jejak-jejak binatang liar seperti babi hutan, rusa maupun beruang masih mudah ditemukan. Namun pacet juga banyak. Lintasan kedua disebut Jalur 54. Dinamakan Jalur 54 karena posisinya persis di depan batu penanda kilometer yang menunjukkan jarak 54 kilometer dari Medan. Lokasinya berada di Desa Doulu II, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, tak jauh dari kawasan Penatapan, tempat bakaran jagung. Jarak tempuh ke puncak diperkirakan antara empat hingga enam jam. Dibandingkan jalur dari Sibolangit, jalur ini jauh lebih mudah. Tapi hati-hati! Meskipun lintasannya tampak jelas, kemungkinan tersesat cukup besar, karena banyaknya cabang jalur. Rute ketiga melalui Desa Raja Berneh. Sepanjang jalur ini, pemerintah setempat sudah membuat takik-takik anak tangga. Kemungkinan tersesat relatif kecil, tetapi pemandangan terlalu monoton. Waktu tempuh pendakian sekitar tiga jam. Jalur ini disebut sebagai jalur wisata. Rute terakhir adalah melalui Desa Jaranguda, Kecamatan Simpang Empat, tidak jauh dari Pasar Buah Berastagi. Dari sini, jalanan sudah diaspal mulus hingga satu kilometer menjelang puncak.

Anda dapat menyewa angkutan menuju ujung jalan. Kemudian melanjutkannya dengan berjalan kaki ke puncak. Jalur ini bisa dikatakan sebagai jalur keluarga. Dari Jaranguda, terdapat pos pengutipan retribusi. Pemandangan di kiri dan kanan jalan didominasi sajian hutan tropis. Di sini matahari muncul silih berganti bersama gerimis. Kadang-kadang cahaya menembus batangan pohon yang menjulang tinggi, dan di beberapa tempat, terdapat panorama pucuk-pucuk pepohonan yang menyerupai permadani hijau.

Asap Putih Solfatara Setelah mencapai ujung aspal dari Desa Jaranguda, jalur pendakian akan melalui anak tangga. Pada beberapa bagian, anak tangga sudah hancur akibat tertimbun longsor maupun karena lapuk dimakan usia. Aroma belerang yang ditiupkan angin mulai tercium sekitar 15 menit sebelum anak tangga terakhir. Suhu turun hingga sekitar 20 derajat celcius. Dalam beberapa langkah berikutnya, akan tercium aroma belerang yang bersumber dari solfatara, sumur belerang. Kini, nikmatilah sajian alam Gunung Sibayak yang mempesona itu. Dinding-dinding kawah yang menghitam mencirikan kekokohannya, berpadu dengan pohon-pohon perdu yang hanya hidup di ketinggian. Pada bukit-bukit batu yang mengelilingi kawah, tersebar sekitar 20 solfatara, yang terus menerus menyemburkan belerang. Suhu panasnya bisa mencapai 119 derajat celcius. Selain mengepulkan asap putih, sumur-sumur belerang itu juga memperdengarkan bunyi gemuruh. Warna kekuningan di sekitar semburan menandakan kandungan belerang yang tinggi. Karena proses biologis dan kimia, bebatuan di sekelilingnya menunjukkan ragam warna yang harmonis.

Persis di pusat semburan, batu berwarna kuning. Sejauh 30 sentimeter hingga dua meter dari pusat semburan, batu berwarna perak. Dan tiga meter dari pusat semburan akan terlihat batu yang tidak terkontaminasi belerang dengan warna dasar hitam, merah, jingga atau batu kapur berwarna putih. Semburan belerang terbesar berada di dalam kawah Sibayak. Kawah itu berbentuk bulat dengan diameter sekitar 200 meter persegi. Kedalaman dari sisi kawah paling terendah, yakni dekat tiga batu besar yang salah satunya seukuran kerbau, sekitar 30 meter. Dari tiga batu besar itu, Anda dapat melihat keseluruhan pemandangan di dalam kawah Sibayak. Namun untuk merekam gambar dengan kamera, butuh kesabaran.

Kabut sering mengganggu pandangan. Ada beberapa jalan turun ke kawah yang menuntut kehati-hatian secara ekstra. Di dalam kawah, terdapat batu-batuan yang disusun oleh pendaki yang telah dinamai sesuai nama diri atau nama organisasi. Jika sedang berada di kawah pada hari Minggu pagi, maka Anda dapat menyaksikan atraksi kegiatan menyusun huruf demi huruf pada kawah itu. Hari Sabtu dan Minggu merupakan peak season pendakian, terutama pada musim liburan. Pelajar dan mahasiswa umumnya sudah memasang tenda sejak Sabtu siang. Sementara pelancong yang tidak bermalam, datang pada Minggu pagi. Setiap minggunya rata-rata 300 orang melakukan pendakian hingga ke puncak. Menjelang pukul lima Minggu pagi, hampir semua pendaki keluar dari tenda menunggu matahari terbit. Pada saat seperti ini, suhu dingin lebih menusuk tulang. Hilang Walau terkesan aman sebagai objek wisata, tetapi Sibayak menyimpan satu misteri tersendiri. Ada sejumlah orang yang tercatat hilang atau meninggal dunia akibat terjatuh maupun penyebab lain.

Di pintu masuk pendakian dari Desa Jaranguda, terlihat nama-nama pendaki yang hilang. Pada tahun 1983, dua profesor Amerika Serikat hilang dalam pendakian, dan mayatnya tidak ditemukan sampai hari ini. Pada tahun 1986, seorang warga Amerika Serikat lainnya, John Sanders, sempat dinyatakan hilang. Dia ditemukan kembali dalam keadaan hidup lima hari berikutnya. Sementara pada tahun 1989 seorang warga Swedia, Steven Herbet, ditemukan meninggal dunia. Pada tahun yang sama, Paijs JA Hubertus, seorang warga Belanda, ditemukan jenazahnya tujuh bulan kemudian. Dunkel Wolfgang, warga Austria, baru ditemukan jenazahnya pada tahun 1995, dua tahun setelah dia dinyatakan hilang. Dua warga Jerman, Christina Ecorn dan Hasn Jorgeichorn yang hilang tahun 1997 belum ditemukan hingga kini. Dan masih pada tahun 1997, tiga warga Jerman lainnya, Uwe Fisher, Annete Strauber dan Anne Finn, dinyatakan hilang, meski dapat ditemukan dalam keadaan selamat tiga hari kemudian.

Sekelompok pecinta alam lokal dari Medan juga pernah mengalami musibah di jalur Sibolangit, dan salah seorang di antaranya meninggal pada tahun 2006 lalu. Belasan bangkai pesawat dan helikopter juga pernah ditemukan di kawasan ekosistem Sibayak. Makanya gunung ini identik dengan istilah dangerously beautiful mountain. Masih Aktif Gunung Sibayak, atau kadang juga disebut Gunung Rangkap Sibayak di Kabupaten Karo, merupakan gunung berapi aktif yang masuk dalam golongan tipe B, yakni gunung yang tidak pernah meletus dalam 400 tahun terakhir.

Catatan menunjukkan, gelegak magmanya terjadi pada tahun 1600, atau 407 tahun lampau. Tidak ada informasi mengenai korban jiwa maupun lainnya. Dari tiga gunung berapi yang ada di Sumatera Utara, Sibayak merupakan gunung yang paling rendah. Di urutan pertama adalah Gunung Sinabung yang juga berada di Kabupaten Karo, dengan ketinggian 2.451 meter dari permukaan laut (mdpl). Kedua, Gunung Sorik Marapi di Kabupaten Mandailing Natal dengan ketinggian 2.145 mdpl. Sibayak sendiri tegak dengan ketinggian 2.094 mdpl. Namun gunung ini unggul dalam keindahan panorama. Gunung Sibayak memberi banyak manfaat di kawasan sekitarnya. Pertanian yang subur menjadikan Kabupaten Karo sebagai penghasil buah dan sayur andalan.

Pengaruh vulkaniknya juga turut mendorong Sumatera Timur (istilah zaman kolonial untuk Sumatera Utara) melaju pesat menjadi daerah perkebunan paling produktif di Indonesia hingga sekarang. Belerang di kawah Sibayak pernah diambil penduduk untuk dijual. Namun kini sudah tidak lagi karena tiadanya penampung. Sementara air panas yang muncul melalui retakan di daerah selatan lereng Gunung Sibayak menjadi objek wisata pemandian air panas dan andalan mata pencarian warga, terutama di Desa Raja Berneh, Semangat Gunung, dan Doulu. Selain menyuplai air bersih untuk Kota Medan dan sekitarnya, ekosistem Sibayak juga mengeluarkan panas bumi yang kini dimanfaatkan PT Pertamina Area Geothermal Hulu (AGH) Sibayak sebagai pembangkit listrik tenaga panas bumi. Lokasi pembangkitnya berada di Desa Raja Berneh, sekitar 11 kilometer sebelah utara Berastagi. Sejak Februari 2001, sepuluh sumur panas bumi sudah selesai dibor. Sumur-sumur itu terbagi dalam tiga blok yang saling berdekatan.

Beberapa sumur dimanfaatkan untuk menyuplai 2 megawatt setrum bagi PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Kapasitas ini masih bisa ditingkatkan karena total cadangan Sibayak diperkirakan mampu membangkitkan energi listrik hingga 40 megawatt Dengan sifat dan perannya yang multifungsi, Sibayak ibarat sumber kehidupan sekaligus kematian bagi manusia dan hewan di sekitarnya. Hanya gemuruh cinta yang dapat membawa seseorang ke atasnya. Cinta pada seseorang, atau cinta pada Tuhan. Nah, selamat mendaki dan menikmati keajaiban Tanah Karo! (insidesumatra)