Bupati Copot Plt Kadisdik Karo

Bupati Karo, Kena Ukur Karo Jambi Surbakti, mencopot Sugianta Ginting yang belum sampai sebulan diangkat sebagai Plt Kadis Pendidikan (Kadisdik). Sebelumnya, bupati juga mencopot Bahtera Ginting, yang hanya menjabat 43 hari sebagai Kadisdik Karo.

Kepala BKD Kabupaten Karo, Kawar Sembiring, membenarkan pemberhentian Sugianta. Sebagai Plt Kadis Pendidikan Karo yang baru dipercayakan kepada Kumani Karo-karo, berdasarkan SK Bupati Nomor: 800/125/BKD/2011, tanggal 20 Oktober 2011.

Sebelumnya, Rabu (19/10), Kumani dipercayakan bupati menduduki jabatan sebagai Kabid Kepemudaan dan Dinas Kepemudaan dan Olahraga. Sedangkan jabatan sebelumnya adalah kepala SMP Negeri 2 Kabanjahe.

Pencopotan Sugianta Ginting, sebelumnya sudah santer terdengar sejak seminggu ini. Menurut informasi, Sugianta dicopot sehubungan dengan pengunduran diri. Sugianta diangkat sebagai Plt Kadis Pendidikan Karo, Senin (26/9) lalu.

Sementara itu, Sugianta, mengaku telah mengajukan pengunduran diri sebagai Plt Kadis Pendidikan Kabupaten Karo sejak 10 Oktober 2011. Namun dia tidak menjelaskan kenapa mengundurkan diri.

Dengan pencopotan tersebut, berarti menambah sederetan nama pejabat di kabupaten ini yang dicopot bupati, sejak dilantik pada 25 Maret 2011. Sebelumnya sejumlah pejabat yang dicopot, antara lain, Kadis Kehutanan Timotius Ginting, selanjutnya mengangkat Plt Martin Sitepu yang beberapa hari kemudian dicopot lagi dan digantikan dengan Plt Cipto.

Selanjutnya pencopotan Kepala Bappekab Pantas Samosir dengan mengangkat Erawati br Sitepu. Namun beberapa hari kemudian diganti lagi ke Plt Abel Tarigan. Pejabat lain yang dicopot adalah Seruan Sembiring, yang dicopot dari Kadis Pendidikan, sebagai Plt adalah Bahtera Sembiring yang beberapa hari kemudian dikukuhkan sebagai pejabat defenitif Kadis Pendidikan.

Namun 43 hari kemudian Bahtera dicopot lagi sebagai Kadis Pendidikan dan sebagai Plt dipercayakan Sugianta Ginting. Jabatan lainnya yang dicopot adalah Kadis Pertanian yang dijabat Nomi br Sinuhaji yang selanjutnya mengangkat Agustoni sebagai Plt.

Kadis Tamben yang dijabat Hendri Ginting juga dicopot dan sebagai Plt Robert Perangin-angin yang juga memegang jabatan eselon tiga di Dinas Koperindag. Terakhir jabatan struktural eselon dua yang dicopot adalah Kadis Kesehatan yang dijabat Diana br Ginting dengan mengangkat Plt Jansen Perangin-angin.

Selain tindakan mencopot jabatan struktural eselon dua, bupati juga menggantung sejumlah jabatan struktural eselon dua lainnya dengan mengangkat Plt, antara lain Asisten II dengan Plt Simon Sembiring, Asisten III dengan Plt Jernih Tarigan. Kadis Kebersihan dan Pertamanan dengan Plt Heri dan Kadis Sosial dengan Plt Seruan Sembiring yang hanya menjabat sebagai staf di Dinas Pendidikan. (waspada)

Drama Karo – Salah Pilih Bibi Episode 1

screenshoot salah pilih bibi

salah pilih bibi
Raspati (Abdi Ginting) telah lama menjalin cinta dengan Kirana (Mawar O Br Tarigan) profesi Raspati adalah seorang polisi, sedangkan Kirana anak seorang penjudi. Ayah Kirana (Beret Situmorang) mengandalkan Raspati sebagai bekingnya. Royal (Andi Rallo Ginting) telah bercerai dengan Lolita (Vina Astria Br Bangun) gara-gara ibu Royal (Sabarta Br Tarigan) cerewet dan menginginkan menantunya orang Karo. Perceraian ini menyebabkan Lolita bekerja di sebuah Kafe. Ketika Royal membeli tanah ayah Kirana, dia jatuh hati kepada Kirana. Bagaimanakah keputusan Raspati ketika komandannya menugaskan Raspati untuk menangkap ayah Kirana yang sedang berjudi ?
screenshoot salah pilih bibi

Supir Kurang Tidur, Mobil APV Terbalik

mobil avp rusak parah - pancur batu

mobil avp rusak parah - pancur batu
Akibat kurang tidur, supir mobil APV BK 1186 GQ beserta dua penumpang yang berada di dalam mobil harus dilarikan ke rumah sakit terdekat. Pasalnya, mobil pribadi jenis suzuki APV berwarna silver ini terbalik di Jl. Jamin Ginting Desa Pertampilan KM10 (Kecamatan Pancurbatu, Deliserdang) [Rabu 19/10 sekira Pkl. 05.00].

Ketiga penumpang sekaligus supir ini dilarikan ke rumah sakit terdekat karena mengalami luka-luka yakni Togi Nababan (29) warga Naga Simeibu (Kecamatan Lintong Nihuta) selaku supir. Sedangkan dua penumpangnya yakni Santi br Tobing (19) warga Desa Laucih (Medan) dan Sartica br Tampubolon (19) warga Prapat Negeri.

Menurut informasi yang behasil dihimpun Sora Sirulo di Polsek Pancurbatu, mobil berwarna silver tersebut datang dari arah Medan menuju Brastagi. Dalam keadaan jalan sepi, diduga supir yang kurang tidur tersebut mengantuk sehingga tidak dapat mengontrol laju mobilnya. Sewaktu berada di jalan tekongan, supir yang mengantuk terkejut dan membanting stir mobilnya ke arah kanan jalan sehingga terbalik berulang kali. Akibatnya, mobil hancur dan ringsek.

Beruntunglah mobil tidak mengenai rumah dan warga sekitar. Ketiga korban langsung diselamatkan warga dan dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sementara mobil Suzuki APV dibawa Polantas ke Polsek Pancurbatu.

Kanit Lantas Pancurbatu Tony Simanjuntak SH saat ditemui wartawan membenarkan kejadian tersebut dan mengatakan mobil yang mengalami kecelakaan lalu lintas di pagi hari itu sudah dibawa ke Polsek Pancurbatu untuk diamankan dan para korban sudah dirawat dirumah sakit terdekat. (sorasirulo)

TKI Asal Karo Diduga Tewas Digantung

tki meninggal

tki meninggal
Isi surat yang dibacakan Ira, salah seorang kerabat TKI, Simon Petrus Sitepu, 22, asal Laumulgap, Kecamatan Mardinding Kabupaten Tanah Karo, yang tewas di Malaysia sangat memilukan hati mamaknya, Nurlela Br Tarigan, di Ruang Instalasi Jenazah RSU Pirngadi Medan, Rabu (19/10).

Surat dengan tulisan tangan bertinta biru itu ditemukan oleh petugas kamar mayat tepat di samping jenazah korban saat diangkat dari dalam peti jenazah. “Ini memang tulisan anakku,” sebut Nurlela Br Tarigan, sambil terisak-isak.

Sepenggal isi surat itu menyatakan bahwa dia akan meninggalkan mamaknya selama-lamanya namun dirinya tetap berada di hati mamak. Ira akhirnya berhenti membaca surat tersebut, setelah Nurlela Br Tarigan menangis sejadi-jadinya. Surat itu menimbulkan tanda tanya bahwa Simon Putra Sitepu, sudah tahu hidupnya di dunia akan berakhir, namun kematian Simon masih misterius.

Sementara menurut surat dari Polisi Kerajaan Malaysia, dari Laporan Pengaduan Marzuki Bin Ibrahim, Pemandu Bolduzer, warga Kampung 1 Lubuk Merbau, Kuala Nerang Kedah, Malaysia, menyatakan bahwa dia sekira pukul 12.30 waktu setempat, memarkirkan bolduzernya di Tapak Project Getah Gunung Inas, Bukit Hijau Kupang, Baling Kedah, dalam keadaan baik.

Marzuki Bin Ibrahim lalu turun dari Bolduzer untuk mengambil makanan tengah hari (makan siang) dan berniat memberikannya kepada kawan-kawan yang bekerja di Tapak Project tersebut. Dan ketika dia sampai di tempat parkir Bolduzernya, dia mendapati Bolduzer tersebut telah terjunam (terbalik) kebawah dan mendapati seorang lelaki Indonesia berada tepat di bawah Bolduzer tersebut. Dia saat itu yakin lelaki itu telah meninggal dunia.

Begitu dalam isi surat yang dibacakan oleh Anggota DPD RI, Parlindungan Purba, ketika meninjau langsung ke Kamar Mayat RSU Pirngadi Medan. Namun sayang, dalam surat tersebut, nama lelaki Indonesia itu tidak disebutkan.

Kejanggalan lainnya adalah kondisi mayat Simon yang terbaring kaku mengenakan baju kaos warna putih dan celana jeans warna hitam. Dimana tubuh Simon tidak terlihat luka serius akibat di timpa Bolduzer. Hanya terdapat bekas jeratan tali dilehernya, kening hitam bekas memar, lidah menjulur terjepit gigi, sedangkan telinganya mengeluarkan darah yang sudah memudar.

“Jika ditimpa bolduzer, mayatnya tidak begini,” ucap seorang petugas kamar mayat yang mengaku capek melihat kondisi mayat yang seperti ini atau pun yang ditimpa benda berat.

Akui Jenazah Anaknya

Jenazah Simon Petrus Sitepu, tiba di Bandara Polonia Selasa (18/10) sore, menggunakan identitas orang lain atas nama Roni, warga Aceh Tenggara, karena korban merupakan pendatang illegal. Simon sendiri dinyatakan tewas pada 14 Oktober 2011 lalu.

Saat di bandara, orangtua korban sempat tidak mengakui itu jenazah anaknya, sehingga menimbulkan kegaduhan. Namun setelah dibuka di RSU Pirngadi Medan, barulah mereka mengakui.

“Memang itu anak saya, wajahnya mirip dengan saya,” kata Benar Sitepu setelah melihat langsung jenazah korban di Instalasi Jenazah RSUD dr Pirngadi Medan, yang mengaku sempat silap saat di bandara karena ketika dilihatkan wajah mayat tersebut dia tidak dapat mengenali, karena posisi wajahnya menyamping.

Nurlela sempat terkulai lemas dan histeris setelah mengetahui ciri-ciri korban. Namun sayang, jenazah korban tidak diotopsi atau pun di visum et repertum, oleh pihak otopsi RSU Pirngadi Medan. Jenazah korban kemudian disemayamkan di rumah duka di Desa Lau Mulgap, Mardingding, Tanah Karo.

TKI Illegal

Anggota DPD RI asal Sumatera Utara (Sumut), Parlindungan Purba yang melayat jenazah korban di Instalasi Janazah RSUD dr Pirngadi Medan, mengatakan konsulat Malaysia di Medan tidak ada kaitannya dengan masalah ini.

“Kita segera menyurati BP3TKI untuk menyelesaikan hak korban yang
belum diselesaikan oleh pihak perusahaan dimana korban bekerja,” ungkapnya. Dikatakan, korban merupakan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang keluar
dari perusahaan penyalur tenaga kerja yang sebelumnya membawa korban.

“Setelah keluar dari perusahaan yang membawanya, TKI dianggap menjadi ilegal, sedangkan bio data korban saat pada pengiriman jenazah merupakan dari identitas pemutihan dari kedutaan di Malaysia,” sebutnya. Sebab itu, identitasnya dipalsukan agar jenazahnya bisa dipulangkan. Lantas bagaimana nasib pemilik identitas asal Aceh Tenggara tersebut? (don/beritasore)

Ikan Nila Saos Cikala Khas Karo, Disenangi Bule

Ikan Nila Saos Cikala

Ikan Nila Saos Cikala

Jika anda ingin menikmati masakan khas Karo, datang saja ke Restoran Sunrise yang terletak di Kompleks Green Hill, Desa Suka Makmur, Kecamatan Sibolangit. Restoran yang dikelola oleh Jasman dan istrinya Arum Sari, menyuguhkan masakan tradisional khas Karo. Bukan hanya masakan tradisional saja, masakan dari luar negeri juga tersedia di sini, seperti Chinese Food, dan Japanese Food.

Dari menu yang tersedia di restoran Sunrise, ada makanan yang paling digemari oleh para penggila kuliner, yaitu ikan nila saos cikala. Hal ini dikatakan oleh Jasman pengelola restoran. Jasman mengatakan, menu ikan nila saos cikala adalah masakan khas Karo. “Yang membuat pengunjung tertarik dengan makanan ini karena ada campuran buah asam cikala, yang membuat makanan ini menggugah selera,” terangnya.

Jasman menjelaskan, selain pengunjung lokal, turis asing juga senang dengan ikan nila saos cikala ini. “Para bule senang sekali dengan menu ikan nila saos cikala, karena rasanya yang asam, manis, juga ada pedasnya. Jadi masakan ini benar-benar masakan khas Karo tulen,” ujarnya.

Selain mempunyai menu makanan andalan, restoran ini juga menyuguhkan minuman air kelapa muda, yang membuat pengunjung menjadi tambah berselera. Harga makanan dan minuman di restoran ini, juga cukup terjangkau oleh kantong. Jika anda memang benar sebagai pecinta wisata kuliner, datang saja ke restoran Sunrise. (BSC 07)

Bertarung ke Puncak Petarung

mendaki gunung sinabung

mendaki gunung sinabung
“Awas batuuuuu…,” teriakan keras itu memecah malam sunyi. Dengan bantuan sinar senter, mata liar mencari arah jatuhan batu. Badan bergeser ke tubir tebing, sementara tangan erat mencengkeram akar pepohonan.

Tiba-tiba terdengar suara tak kalah keras, “Aduuuh.” Salah seorang porter, yang berada beberapa langkah di depan, rupanya terlambat menghindar. Tangannya terbentur batuan longsor. Untung hanya terluka kecil.

Walau “hanya” berketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut, pendakian ke Sinabung tidaklah mudah. Batuan rapuh, cadas licin berselimut lumut, dan tanjakan berkemiringan 75 derajat menemani perjalanan, 26 Juli lalu. Demi mengejar matahari terbit di puncak, perjalanan malam pun ditempuh.

Lau Kawar

Sehari sebelum pendakian, Puncak Sinabung diselimuti asap tebal. Digolongkan sebagai gunung api Tipe B—karena tak aktif sejak tahun 1600—Sinabung tiba-tiba meletus, 29 Agustus 2010. Letusan itu menaikkan status Sinabung menjadi Tipe A dan dipantau intensif.

Letusan itu juga menumbuhsuburkan ritual terkait gunung. Jejak ritual berupa sesaji terlihat di sepanjang jalur pendakian, biasanya berupa jeruk peras, daun sirih, dan rokok.

Pendakian diawali dari Danau Lau Kawar. Danau seluas 200 hektar yang siang hari begitu indah berubah misterius pukul 00.30. Pikiran pun melayang pada legenda danau tersebut.

Konon, sebelum jadi danau, Lau Kawar merupakan lahan pertanian. Hiduplah satu keluarga petani. Silih berganti anggota keluarga menunggu ladang, hingga siang itu tiba giliran sang nenek. Sebagaimana biasa, cucunya, Kawar, mengantarkan makanan.

Namun, dalam perjalanan, Kawar kelaparan. Tanpa pikir panjang disantapnya jatah nenek hingga tersisa tulang. Nenek kecewa ketika menemukan bekalnya tanpa lauk-pauk lagi.

Sambil menangis, ia berkata, “Daging pun aku sulit mengunyah, kenapa cucuku tega memberi tulang. Seakan aku tidak berguna lagi di dunia.”

Seketika itu juga hujan lebat turun, disertai petir. Banjir melanda, menenggelamkan Kawar, nenek, dan lahan pertanian sehingga terbentuklah danau yang dinamakan Lau Kawar.

Moral cerita ini barangkali untuk mengingatkan agar menghormati orang tua dan jangan serakah. Namun, di baliknya ada upaya merekonstruksi penciptaan danau. Antropolog dari Universitas Pittsburgh, Pamela J Stewart dan Andrew Strathern, dalam Landscape, Memory and History: Anthropological Perspectives (2003) menyebutkan, formasi alam yang unik, seperti gunung, danau, dan sumber air panas, kerap dikeramatkan. Pantangan dibuat demi menghormati ruang sakral itu.

“Saat mendaki Sinabung, tak boleh berpikir dan berucap kotor, membakar babi atau anjing, karena akan mendatangkan bencana,” kata Sidarta, pemandu pendakian.

Bagi orang Karo, Sinabung bukan sekadar gunung. Dia juga ruang spiritual, yang jejaknya terekam dari sejumlah sesajen di jalur pendakian. Antropolog dari Universitas Sumatera Utara, Sri Alem Sembiring, mengatakan, orang Karo percaya tendi yang mengisi alam semesta. Ritual dilakukan jika terjadi ketidakseimbangan antara tubuh dan tendi. Keseimbangan alam terganggu jika inti kehidupan, seperti tanah, air, dan udara, terusik. Ritual berfungsi menjaga keseimbangan makrokosmos agar tidak terjadi bencana.

Sang petarung

Bertolak dari tepi danau itu, kami mendaki ke puncak. Tidak banyak yang dilihat lantaran gelap. Satu jam mendaki, pepohonan lebat dengan akar menghalangi digantikan bebatuan cadas yang terbentuk dari lelehan lava. Jalan semakin terjal.

Batu-batuan longgar dengan mudah tercongkel dan gugur. Sebelum berangkat, petugas pos pemantauan Sinabung, Armen Putra, mengatakan, aktivitas Sinabung stabil dan aman didaki. Hanya saja, pendaki harus berhati-hati dengan kemungkinan runtuhan batu. Sinabung memang tak bisa diremehkan. Selain jalan terjal, bebatuannya pun rapuh dan mudah longsor.

Tak heran, Sinabung disebut “gunung petarung”. “Ada kepercayaan, jika mau sukses dalam hidup, dakilah Sinabung,” ujar Ita Sembiring, budayawan Karo.

Tiga setengah jam mendaki, kami tiba di area lapang, hanya 10 meter dari puncak. Hari masih gelap. Kami tiba satu jam lebih awal dari jadwal. Kabut tebal turun. Angin menderu kencang, membawa gigil dingin. Kami menunggu di tanah lapang itu, menggelar mantel dan membungkus tubuh dengan pakaian tebal yang dibawa.

Pukul 05.30, langit tetap gelap. Setengah jam berlalu, suasana tak berubah. Kami memutuskan menuju puncak. Berdiri di Puncak Sinabung, seperti tegak di atas awan. Matahari nyaris tak terlihat, bersembunyi di balik kabut. Kami bertahan, menunggu alam bermurah hati membuka diri.

Hanya sekelebatan kabut menyingsing. Tak cukup memberi waktu untuk mengabadikan panorama menawan.

Sinabung memberi kami pelajaran penting, gunung ini sulit diduga dan tak boleh diremehkan. *kompas

Perayaan Hari Perempuan Pedesaan Diperingati

Sebanyak 247 peserta mewakili berbagai kelompok perempuan dan LSM pendamping perempuan di Sumatera utara memperingati Perayaan Hari Perempuan Pedesaan Senin (17/10) di Medan.

Hari Perayaan Perempuan Pedesaan ini disatukan dengan Hari Penghapusan Kemiskinan Sedunia dengan tema “Tingkatkan akses perempuan pedesaaan terhadap fasilitas dan layanan kesehatan yang berkualitas dan murah”.

Kegiatan yang difasilitasi PESADA dan HAPSARI yang merupakan LSM/ORNOP penguatan perempuan ini juga menghadirkan tiga utusan pemerintah sebagai institusi pelayanan untuk Perempuan, Pedesaan dan Kesehatan. Mereka adalah Emmy Suryani Lubis, SH MAP (Biro Perempuan SUMUT), Cut Diana Mutia, SKM (Dinas Kesehatan SUMUT), dan Marzuki,MAP (Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa SUMUT).

Sedangkan pembicara tahap kedua ditampilan sebanyak 6 orang perwakilan perempuan pedesaan yakni Tioma Manalu dari Credit Union (CU) Pesada Perempuan unit Aek Sibundong, Dolok Sanggul, Firmauli Limbong dan Sarmaulina Sitanggang mewakili Serikat Perempuan untuk Keadilan (SPUK) dan Sarah (Ketua CU Hapsari Sehati),Betseba (SPI Tanah Karo), dan Siti Khadijah (SPI Deli Serdang).

Para pembicara dari utusan pemerintah mengedepankan upaya dan peran negara untuk memberdayakan perempuan di dalam bidang kesehatan, ekonomi dan pendidikan. Sedangkan enam orang perwakilan perempuan yang berasal dari dampingan PESADA dan HAPSARI menyoroti minimnya pelayanan kesehatan di pedesaan dan buruknya kualitas pelayanan yang diberikan pemerintah.(tosim/suarakomunitas)